Laman

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tampilkan postingan dengan label Akhlak dan cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak dan cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

Falsafat Peringatan Karbala




Selama 14 abad ini, para pengikut Ahlul Bait tiap tahunnya selalu mengenang peristiwa heroik Asyura yang sangat tragis. Mereka mengenang kembali lembaran demi lembaran sejarah yang menghiasi darah-darah suci yang tertumpah di Karbala. Mereka menangis, terkadang sampai histeris. Di negeri-negeri muslim yang tradisi Syiah-nya sudah sangat kental, Asyura berarti upacara-upacara duka dengan cara turun ke jalan atau hadir di majelis-majelis duka cita.
Banyak kaum muslimin dunia yang belum mengenal madzhab Ahlul Bait ini yang mempertanyakan, mengapa orang-orang Syiah tiap tahun mengenang peristiwa tragis ini? Mengapa kematian sekelompok orang yang sudah berlalu sekian abad dari zaman kita masih terus ditangisi? Mengapa perasaan benci terhadap para pembantai keluarga Nabi masih dipelihara oleh orang-orang Syiah? Bukankah kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya melupakan masa lalu dan memaafkan segala kesalahan mereka?
Sejak Imam Husein a.s. gugur di Karbala dan kepemimpinan atas ummat Islam atau imamah berpindah tangan kepada puteranya Imam Ali bin Husein As-Sajjad a.s, mengenang peristiwa pahit Karbala itu sudah diperintahkan oleh para imam. Dalam berbagai kesempatan, para imam selalu meminta para penyair dan orator terkenal di zamannya untuk membacakan kembali berbagai kisah yang berlangsung pada tanggal 10 Muharam tahun ke-61 Hijriah tersebut. Kita bisa mengemukakan sejumlah hal yang menyebabkan para imam sampai menyuruh para pengikutnya agar menghidupkan terus peristiwa Karbala dalam ingatan mereka.
Pertama, peringatan Asyura bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendambakan keadilan untuk melakukan gerakan kebangkitan. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, situasi represif yang ada pada zaman khilafah Yazid bin Mua’awiyah sudah sedemikian buruknya sampai-sampai, saat menerima ancaman dari Yazid agar membaiatnya sebagai khalifah, Imam Husein mengatakan, “Kita harus melupakan Islam untuk selama-lamanya jika kaum muslimin harus diperintah oleh orang semacam Yazid”.
Berbagai ciri-ciri masa jahiliah yang hendak dikembalikan lagi oleh Bani Umayyah mencapai klimaksnya pada zaman pemerintahan Yazid. Saat itu, Islam betul-betul tinggal nama. Sedangkan perilaku keseharian yang dipraktikkan oleh mereka yang mengaku sebagai pemimpin ummat Islam sudah sangat mirip dengan perilaku para tokoh Qureisy di zaman jahiliah dulu. Fanatisme terhadap kaumnya sendiri, taklid buta, dibuangnya rasa kemanusiaan, dan dicampakkannya ilmu pengetahuan sudah menjadi perilaku sehari-hari kalangan istana Syam tempat Yazid memerintah. Hal itu sangat terasa kontras dengan masa beberapa dekade sebelumnya, saat pemerintahan Islam langsung dipegang oleh Rasulullah SAWW.
Kembalinya masa gelap jahiliah kepada kehidupan masyarakat adalah sebuah proses sejarah yang terus berulang dengan instrumen yang berbeda-beda. Di setiap saat, selalu saja ada gerakan yang dilakukan orang-orang jahat untuk mengembalikan masa jahiliah. Dari sini, panji kebangkitan Asyura yang dipancangkan oleh Imam Husein a.s. akan menjadi inspirasi yang tiada habisnya bagi para pendamba keadilan. Mereka bisa melihat bahwa penegakan keadilan itu harus dilakukan meskipun itu berarti hilangnya nyawa diri sendiri dan sejumlah besar keluarga.
Di depan pasukan Ibnu Ziyad yang kemudian menjadi pasukan pembantainya di Karbala, Imam Husein mengatakan demikian.
“Wahai ummat Islam, dengarlah kata-kataku. Aku pernah mendengar kakekku, Muhamad SAWW, berkata bahwa selalu saja ada pemimpin yang mengaku bergama Islam tetapi berperilaku represif. Ia merobek-robek janji yang telah dibuatnya dengan Allah. Ia menentang sunnah Rasululllah. Ia juga memerintah dengan cara-cara kejam dan maksiat. Siapapun yang melihat pemimpin semacam itu tetapi ia tidak melakukan perlawanan dengan tindakan maupun hanya sekedar kata-kata, maka Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat bersama pemimpin yang zhalim tersebut”.
Peristiwa Asyura juga memberikan inspirasi kepada para pejuang keadilan bahwa dalam pandangan Allah, kemenangan yang hakiki terkadang tidak bisa tampak pada hal-hal yang sifatnya lahiriah. Pada peristiwa Asyura, Imam Husein dan sahabat-sahabatnya malah terbantai. Akan tetapi, kekalahan secara lahiriah itu malah merupakan sebuah kemenangan hakiki. Dalam Islam, kemenangan hakiki akan diperoleh ketika seseorang mengalahkan hawa nafsu dan bisikan setan hingga ia mampu melaksanakan perintah Ilahi.
Tentu saja harus kita ingat bahwa secara lahiriah pun, Imam Husein dan sahabat-sahabatnya sebenarnya bisa disebut memperoleh kemenangan. Hanya saja, kemenangan itu bersifat politis yang bisa tampak dari situasi yang tercipta setelah peristiwa Karbala itu terjadi. Kaum muslimin yang selama ini tertipu oleh konspirasi-konspirasi licik lingkaran elite politik Bani Umayah, sejak syahidnya Imam Husein di Karbala, mulai sadar dengan ketertipuannya. Saat itu pertanyaan-pertanyaan kritis mulai mengemuka: bagaima mungkin seorang yang mengklaim diri sebagai khalifah kaum muslimin, akan tetapi berani membantai keluarga Rasulullah? Posisi politis Yazid dan antek-anteknya betul-betul hancur begitu Imam Husein gugur di Karbala.
Yang juga tidak boleh dilupakan dari kekalahan Imam Husein secara militer adalah fakta bahwa secara teoretis memang tidak mungkin mengharapkan Imam Husein dan 72 sahabatnya bisa menang melawan pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Seandainya kekuatan kedua pihak berimbang atau minimalnya tidak timpang, bisa dipastikan bahwa Imam Husein akan meraih kemenangan secara militer. Dalam pertempuran yang lebih pas untuk dikatakan pembantaian itu, jumlah tentara Ibnu Ziyad yang tewas pun sangat banyak.
Inilah yang bisa kita saksikan dari kebangkitan revolusi Islam di Iran pimpinan Imam Khomeini. Kaum revolusioner Iran mampu menumbangkan rezim despotik Syah dengan menyandarkan inspirasi mereka kepada perjuangan revolusioner Imam Husein di Karbala. Sejarah mencatat bahwa perlawanan fisik Imam Khomeini dan sahabat-sahabat mulai menggelegak sejak Imam ditahan oleh pihak keamananan kerajaan pada tanggal 5 Juni 1963, dan itu hanya terjadi tiga hari setelah para ulama Iran menyerukan peringatan duka Asyura secara nasional.
Dari Libanon selatan, para pejuang Hizbullah juga berhasil mengusir tentara penjajah Israel yang didukung oleh peralatan militer super canggih. Para pejuang Hizbullah yang mayoritasnya bermadzhab Ahlul Bait itu mengaku bahwa secara mental, mereka tidak pernah kelelahan ketika memperjuangan sesuatu yang sangat berat itu, karena menurut mereka, hal yang jauh lebih berat pernah di ditanggung oleh panutan mereka, yaitu Imam Husein a.s. dan sahabat-sahabatnya di Karbala.
Para pejuang keadilan akan memiliki ketahanan mental dan tidak akan mengenal lelah dalam perjuangan mereka jika mereka menghidupkan terus peristiwa Asyura dalam benak mereka. Setiap detik dari peristiwa yang terjadi di Karbala adalah elegi kepiluan yang sangat sulit ditandingi oleh peristiwa apapun di sepanjang sejarah ummat manusia. Karena itu, ketika berhadapan dengan hal-hal yang sangat sulit sekalipun, seorang pejuang yang terus menghidupkan Asyura dalam benaknya tidak akan pernah merasa putus asa karena yang dialami oleh Imam Husein dan keluarganya di Karbala akan tetap jauh lebih sulit dibandingkan dengan yang dialaminya.
Para veteran perang Iran akan selalu mengisahkan heroisme yang mereka gelar dalam perang melawan tentara Saddam dengan menyebut-nyebut kepiluan tragedi Karbala sebagai inspirasi tiada habisnya hingga mereka bisa resisten di hadapan kesulitan-kesulitan yang menghadang. Seorang veteran perang Iran pernah menceritakan kesulitan yang dihadapinya ketika selama tiga hari berturut-turut dikepung pasukan Saddam. Saat itu, ia dan dua orang rekannya berada di sebuah pos penjagaan Khurramshahr yang sudah ditinggalkan oleh tentara Iran lainnya. Kemungkinan besar, para tentara Iran yang lain mengira bahwa ia dan dua rekannya sudah gugur ditembak tentara Irak. Selama tiga hari terjebak di pos penjagaan itu, ketiga tentara Iran tersebut diteror oleh tentara Irak dengan dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Simaklah penurutan sang veteran perang.
“Ketika tentara Saddam datang, kami sedang berada di sebuah pos penjagaan, sebuah ruangan kecil berukuran 1 x 2 meter. Mereka langsung mengepung pos dari berbagai arah. Saluran listrik dan air yang tadiya terhubung ke pos penjagaan mereka putus. Mereka kelihatan sekali ingin menyiksa kami, karena kalau mau, mereka dengan mudah mengebom pos penjagaan hingga kami bisa mati seketika. Tetapi yang mereka lakukan hanyalah melakukan tembakan-tembakan ke arah tembok pos penjagaan. Mereka lakukan semua itu sambil tertawa-tawa mengejek. Mungkin yang mereka inginkan adalah kami melakukan bunuh diri karena tidak kuat dengan situasi yang ada”.
“Situasi kami memang sangat sulit. Selama 72 jam kami bertiga berada di sebuah ruangan kecil tanpa makanan dan minuman. Kami bahkan tidak bisa buang air di tempat lain karena sedikit saja kami memperlihatkan anggota badan kami, tentara Irak itu akan segera menembaki kami. Kami akhirnya berhasil lolos setelah datang bantuan dari rekan-rekan kami. Mereka yang kini mendengar penuturan saya mengenai kesulitan yang kami hadapi saat itu mungkin akan menganggap kami sebagai perjuangan yang sangat berat. Namun, sebenarnya tidak demikian. Penderitaan kami tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan siksaan yang dialami oleh Ali Al-Ashghar, bayi kecil yang selama tiga hari tidak mendapatkan minuman apapun. Selama tiga hari itu, Ali Al-Ashgar disengat teriknya mentari padang Karbala yang buas. Ketika Imam Husein ingin memberitahukan penderitaan Ali Al-Ashghar kepada pasukan Ibu Ziyad dengan cara mengusungnya di atas telapak tangan, yang diterima oleh Ali Al-Ashghar malah sebuah anak panah yang menembus lehernya hingga ia menjadi anggota kafilah termuda yang gugur dalam peristiwa Asyura”.
Dari penuturan veteran perang Iran tadi, kita bisa melihat betapa sebuah episode dari tragedi Karbala bisa membuat mereka bisa tabah dan bertahan dalam menghadapi penderitaan yang luar biasa. Inspirasi untuk tabah dengan cara mengingat terus tragedi Karbala tentulah tidak akan mungkin bisa diperoleh oleh para veteran perang tadi seandainya Asyura tidak mereka hidupkan dalam benak mereka. Dalam kehidupan sehari-haripun, seorang yang terus mengenang peristiwa Asyura pasti akan mampu bersikap resistan di hadapan segala macam kesulitan hidupnya.
Hal lain yang sering menjadi bahan pertanyaan dari orang-orang yang belum mengenal hakikat madzhab Ahlul Bait adalah terkait dengan masalah mengapa kita harus terus memelihara rasa benci terhadap para pembantai keluarga rasulullah di Padang Karbala yang peristiwanya terjadi belasan abad yang lalu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang harus dipahami. Pertama, kebencian terhadap perbuatan buruk haruslah dipelihara terus oleh seorang muslim. Inilah ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasul. Kedua, ada makhluk-makhluk tertentu di dunia yang menjadi manifestasi utuh dari perbuatan buruk. Untuk itu, Al-Quran dan Sunnah Nabi juga mengajarkan kepada kita untuk membenci makhluk tersebut. Contoh paling jelas untuk hal ini adalah makhluk bernama Iblis. Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk memelihara kebencian Iblis dan segala perbuatannya.
Pemeliharan kebencian terhadap keburukan dan simbol keburukan itu diajarkan oleh agama supaya kita tidak tidak terjatuh ke dalam perbuatan buruk itu. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang ini, apakah mungkin makhluk yang menjadi simbol perbuatan buruk itu berupa manusia? Dengan kalimat lain, mungkinkah ada manusia yang menjadi simbol perbuatan buruk tersebut sehingga ia dan segala perbuatannya harus kita benci? Dalam sejarah ummat manusia Al-Quran memperkenalkan tokoh-tokoh jahat semacam Qabil (putera Nabi Adam), Namrud, Firaun, dll. Semasa Rasul hidup, Al-Quran juga melaknat sejumlah orang munafik karena perbuatan buruk mereka.
Dari sisi ini, kita bisa mengatakan bahwa pemeliharaan kebencian terhadap perbuatan jahat dan para pelaku perbuatan itu sebagaimana yang digelar oleh para pembantai keluarga Nabi di Padang Karbala bukan hanya tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan malah sebuah ajaran abadi yang harus terus kita hidupkan. Itu semua karena karakteristik para pembantai keluarga Imam Husein dan sahabat-sahabatnya sama dengan karakteristik manusia-manusia yang dilaknat oleh Al-Quran.
Masalah terakhir yang menjadi pembahasan kita sekarang ini terkait dengan ratapan dan tangisan para pecinta Ahlul Bait saat mengenang peristiwa Asyura. Ada sejumlah kalangan yang mempertanyakan, mengapa tragedi ini sampai harus ditangisi padahal peristiwanya terjadi ratusan tahun silam? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama harus diingat bahwa menangis adalah reaksi refleks seseorang terhadap situasi emosional tertentu yang ada dalam jiwanya. Episode demi episode dalam peristiwa Karbala memang sangat mengiris hati. Karenanya, butiran air yang menetes dari mata seseorang yang tersentuh hatinya ketika mengenang peristiwa Asyura adalah sebuah proses fisiologis yang sangat alami.
Akhir-akhir ini, para psikolog menyodorkan teori tangisan sebagai bentuk katarsis atau pelepasan emosi yang menyumbat, sehingga kondisi emosional kita yang terkadang berubah-ubah karena situasi tertentu bisa kembali seimbang lewat tangisan tersebut. Para psikolog lainnya juga berbicara mengenai butiran air mata yang bisa melembutkan hati. Walhasil, tangisan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk.
Ada sejumlah pihak yang menyebut tangisan sebagai simbol kecengengan atau malah simbol ketidakrelaan kita atas kehendak Allah. Pernyataan ini memang bisa dibenarkan dalam sejumlah kasus. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan tangisan terhadap peristiwa Asyura, pernyataan tadi menjadi tidak relevan. Menangisi Asyura jelas bukan sebuah kecengengan. Justru kalau ada orang yang mengetahui adanya tragedi dahsyat ini kemudian ia sama sekali tidak bereaksi, itu menunjukkan bahwa hatinya sudah sekeras batu. Meratapi tragedi Karbala juga tidak bisa dikategorikan sebagai ketidakrelaan atas kehendak Allah karena yang tidak direlakan oleh para pecinta Ahlul bait adalah perbuatan bengis Yazid dan tentaranya, yang juga sama sekali tidak diridhoi Allah SWT. (sumber : www.swaramuslim.com)

Kamis, 02 Desember 2010

Peristiwa berdarah dihari Assyura


Untuk sementara kalangan, hari Asyura saat itu adalah hari jihad, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Namun, untuk kalangan lain, hari itu adalah hari pesta darah, hari perang, dan hari penumpahan ambisi-ambisi duniawi. Akibatnya, terjadilah banjir darah para pahlawan Karbala yang terdiri anak keturunan Rasul dan para pecintanya.

Hari itu tanah Karbala sedang diguyur sengatan terik mentari yang mengeringkan tenggorokan para pahlawan Karbala. Hari itu, para pejuang Islam sejati itu satu persatu bergelimpangan meninggalkan sanjungan sejatinya, Husain putera Fatimah binti Muhammad SAWW. Bintang kejora Ahlul Bait Rasul ini akhirnya menatap pemandangan sekelilingnya. Wajah-wajah setia pecinta keluarga suci Nabi itu sudah tiada. Dari para pejuang gagah berani itu yang ada hanyalah onggokan jasad tanpa nyawa. Putera Amirul Mukminin sejati itu melantunkan kata mutiaranya:

"Akulah putera Ali dari Bani Hasyim, dan cukuplah kiranya ini menjadi kebanggaan bagiku. Fatimah adalah ibundaku, dan Muhammad adalah kakekku. Dengan perantara kamilah Allah menunjukkan kebenaran dari kesesatan. Kamilah pelita-pelita Allah yang menerangi muka bumi. Kamilah pemilik telaga Al-Kautsar yang akan memberi minum para pecinta kami dengan cawan-cawan Rasul. Tak seorangpun dapat mengingkari kedudukan kami ini."

"Para pengikut kami adalah umat yang paling mulia di tengah makhluk, dan musuh-musuh kami adalah orang paling rugi pada hari kiamat. Beruntunglah hamba-hamba yang dapat berkunjung kepada kami di surga setelah kematian, surga yang keindahannya tak kunjung habis untuk disifati."[1]

Hari Asyura adalah hari pementasan duka nestapa Ahlul Bait Rasul, hari rintihan sunyi putera Fatimah, hari keterasingan putera Azzahra, hari kehausan dan jerit tangis anak keturunan Nabi. "Adakah sang penolong yang akan menolong kami? Adakah sang pelindung yang akan melindungi kami? Adakah sang pembela yang akan menjaga kehormatan Rasulullah?" Pinta putera Ali bin Abi Thalib as itu kepada umat kakeknya, Muhammad SAWW.[2]

Rintih pinta cucu Rasul itu tak dijawab kecuali oleh beberapa pemuda Bani Hasyim yaitu keluarga, kaum kerabat dan pengikut beliau yang masih tersisa. Diantara mereka adalah Ali Akbar, putera beliau sendiri. Ali Akbar meminta izin sang ayah untuk maju melawan musuh. Sang ayah mendapati wajah anaknya itu dibinari cahaya spiritual yang amat cemerlang, mengingatkan beliau pada wajah Rasul. Wajah memohon itu direstui tatapan bisu sang ayah. Hanya linangan air mata dan tak sepatah katapun terucap sebagai kata perpisahan untuk pemuda ksatria itu di alam fana. Demi tujuan sebuah yang agung, Imam Husain as itu harus rela mengorbankan jiwa dan raga putera yang sangat dikasihinya.

Demikianlah, Imam Husain as akhirnya mempersembahkan putera tercintanya, Ali Akbar, sebagai pejuang pertama Bani Hasyim di Karbala. Dalam pertempurannya, Ali Akbar selalu beliau perhatikan dengan seksama dan penuh ketabahan. Dalam keadaan berlinang air mata, imam Husain as berucap:

"Ya Allah, saksikanlah seorang remaja yang paras, perangai, dan tutur katanya paling menyerupai rasul-Mu kini telah tampil berjuang melawan kaum itu. Kepada wajah remaha inilah kami memandang jika kami sedang merindukan rasul-Mu."

Imam Husain as kemudian berseru kepada Umar bin Sa'ad: "Hai putera Sa'ad semoga Allah memutuskan hubungan kekeluargaanmu sebagaimana kamu telah memutuskan hubungan kekeluargaanku."

Ali Akbar bin Husain as sudah ada di medan laga. Tanpa di duga pasukan musuh, mereka tercengang menyaksikan kepiawaian Ali Akbar dalam berperang. Gerakan dan ketangkasannya dalam bertempur mengingatkan mereka kepada Haidar Al-Karrar alias Ali bin Abi Thalib as yang tenar dengan Singa Allah. Tak sedikit pasukan musuh yang mati menjadi mangsa sambaran pedang Ali Akbar. Namun, saat tenaganya sudah terkuras dan jumlah musuh seakan tak berkurang, Ali Akbar sempat mendatangi sang ayah dan berkata: "Ayah, aku tercekik kehausan sehingga (senjata) besipun kini memberatkanku..."[3]

Imam Husain as menjawab: "Tabahkan dirimu, hai puteraku tercinta. Sesungguhnya Rasulullah tak lama lagi akan memberimu minum yang akan membuatmu tidak akan pernah lagi merasa kehausan."

Remaja berhati baja itu akhirnya kembali lagi ke medan laga. Namun, keadaannya yang sudah nyaris tanpa daya itu segera dimanfaatkan musuh untuk menghabisi riwayatnya. Maka dari itu, kedatangannya disambut dengan hantaman pedang tepat mengena di bagian atas kepala Ali Akbar. Darahnya yang mengucur segera disusul dengan sambaran anak panah yang menusuk tubuhnya secara bertubi-tubi. Dalam kondisi fisik yang mengenaskan itu, bibir Ali Akbar mengucapkan kata-kata yang dimaksudkan kepada ayahnya:

"Sekarang aku sudah melihat kakekku yang sedang membawa cawan yang beliau persiapkan untukmu."[4]

Ali Akbar lalu tergolek di atas kudanya yang berputar-putar ke sana kemari setelah kehilangan kendali di tengah riuhnya suasana perang. Tubunnya yang sudah mengenaskan itu masih sempat dihantam senjata dan dipanah lagi saat kuda yang tak terkendali itu bergerak di sekitar pasukan musuh. Di saat-saat itulah, sambil memanfaatkan sisa-sisa tenaga dan nafasnya, Ali Akbar berucap lagi:

"Salam atasmu wahai ayahku, sekarang aku sudah menyaksikan kakekku Rasulullah. Beliau menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: 'Cepatlah datang kepada kami!'"[5]

Kata-kata yang didengar Imam Husain as ini segera disambut dengan kata-kata lantang beliau: "Allah akan membinasakan kaum yang telah membunuhmu!"[6]

"Hai orang-orang Kufah, aku berharap mata kalian kelak akan dipedihkan oleh tangisan, dada kalian akan dibebani rintihan untuk selamanya, dan Allah tidak memberkati kalian, dan Dia akan mencerai beraikan kumpulan kalian."

Setelah memekikkan kutukan ini, Imam Husain as maju sendiri ke medan perang menerobos dan membubarkan barisan depan musuh. Beliau mendekati kuda Ali Akbar dan menggiringnya ke tempat yang aman lalu menurunkan tubuh penuh luka dan bermandi darah puteranya itu dari kuda. Tubuh suci direbahkan dalam pelukan hangat beliau. Di situ dada Ali Akbar ternyata masih bergerak. Setelah kelopak matanya terbuka perlahan, bibirnya berucap:

"Ayahku yang mulia, aku sudah melihat pintu-pintu langit terbuka, para bidadari di surga sedang berkumpul sambil membawa cawan-cawan minuman dan memanggil-manggil diriku. Sekarang aku akan pergi ke sana dan membinarkan wajah mereka yang merindukan kedatanganku itu..."

Ruh Ali Akbar melayang setelah jasadnya menghembus nafas terakhir. Kepergiannya ke alam keabadian diantar ayahandanya yang mulia itu dengan kata-kata:

"Adalah sesuatu yang berat bagi kakekmu, pamanmu, dan ayahmu untuk tidak memenuhi permohonanmu.[7]

Imam Husain as membawa jasadnya yang penuh luka bacokan dan menjadi sarang anak panah itu ke arah perkemahan. Hazrat Zainab segera keluar dari dalam tenda dan menyambut jasad itu dengan jerit tangis dan ratapan. Jasad itu dipeluknya erat sambil meratap: "Oh kemenakanku. Oh putera kesayangku." Imam Husain as mengantarkan adiknya itu ke dalam kemah orang-orang perempuan lagi lalu kembali memeluk jasad Ali Akbar sambil berucap:

"Puteraku, engkau sudah beristirahat dari kegundahan dan kegetiran hidup di dunia. Kini tinggallah ayahmu seorang diri."[8]

Imam Husain as lantas memerintahkan para pemuda Bani Hasyim untuk membawa jasad suci yang tercabik-cabik itu ke dalam tenda tempat jasad para syuhada dikumpulkan. Jasad putera kesayangan Imam itu diusung diiringi dengan kata-kata beliau berkali-kali: "Innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji'uun."

Dengan hati pilu putera Ali bin Abi Thalib as ini berkata dengan nada tinggi kepada Umar bin Sa'ad:

"Tahukah kamu apa yang akan terjadi nanti denganmu? Allah pasti akan membinasakan keluarga dan keturunanmu sebagaimana kamu membinasakan keluargaku, sebagaimana kamu tidak mengindahkan kekerabatanku dengan Rasulullah. Allah tidak akan memberkahimu. Allah akan menguasakan atasmu seseorang yang akan memenggal kepalamu di atas tempat tidurmu!"

Satu lagi diantara ksatria Karbala dari kerabat Rasul yang berdiri teguh melawan badai bencana dengan segala jiwa dan raga ialah Abdullah bin Muslim bin Aqil. Dia termasuk prajurit yang meminta sendiri kepada Imam Husain as untuk angkat pedang melawan musuh. Imam menjawab:

"Masih belum lama ayahmu Muslim gugur sebagai syahid. Aku akan mengizinkanmu berperang jika kamu membawa ibumu yang sudah tua itu keluar dari suasana pertempuran ini."

Abdullah bin Muslim menjawab: "Ibuku pasti siap berkorban untukmu, dan aku sendiri bukanlah orang yang mengutamakan kehidupan di dunia daripada kehidupan yang abadi di akhirat. Aku memohon restumu untuk mengorban jiwaku di jalanmu."

Sang Imam suci dan agung itupun kemudian merestuinya. Maka, dengan jiwa yang besar dan tak kenal kata gentar, Abdullah maju ke medan laga dengan tatapan yang tajam ke arah musuh yang bergerombol bak srigala kelaparan. Di tengah kerumunan manusia-manusia srigala padang pasir itu, Abdullah bin Muslim mengamuk bak singa sahara. Pedangnya berkelebat-kelebat memangkas nyawa manusia-manusia tak berperasaan dari Kufah itu. Beberapa serdadu bergelimpang diterjang keperkasaan Abdullah yang mewarisi darah kependekaran ayahnya, sebelum kemudian dia sendiri tak berdaya melawan prajurit iblis yang menyemut itu. Putera Muslim bin Aqil ini gugur di tangan Amr bin Sabih Assaidawi dan Asad bin Malik.

Berakhirnya legenda kependekaran Abdullah disusul dengan tampilnya satu lagi putera Muslim, Muhammad. Sebagaimana Abdullah, Muhammad juga meneguk manisnya derajat syahadah di bumi gersang Karbala itu.

Dikisahkan pula dalam sejarah bahwa di hari yang paling na'as untuk anak keturunan dan kerabat suci Rasul itu, Hazrat Zainab Al-Kubra as sempat mengenakan baju baru kepada kedua puteranya, Muhammad dan 'Aun, sebelum kemudian menyerahkan pedang kepada mereka sambil menahan jerit hati yang pilu di dalam hati. Dengan linangan air mata, wanita suci, pemberani, dan mulia ini meminta restu kepada kakaknya supaya kedua puteranya itu ikut mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan Allah. Imam Husain as tadinya masih ingin menahan keberadaan kedua putera itu. Namun, keinginan itu luluh setelah Hazrat Zainab tetap mendesak beliau supaya mengizinkan kepergian mereka. Imam lantas merestui kepergian kedua kemenakan yang dikasihinya itu.

Yang maju terlebih dahulu adalah Muhammad bin Abdullah bin Jakfar. Seperti syuhada sebelumnya, Muhammad jatuh dan gugur setelah menghabisi ajal sejumlah serdadu musuh. Setelah itu baru menyusullah 'Aun bin Abdullah bin Jakfar. Dalam keadaan bertahan dan menyerang pasukan musuh, dia mencoba mendekati jasad saudaranya yang sudah tak bernyawa itu lalu berkata: "Saudaraku, nantikan aku yang tak lama lagi akan menyusulmu."

Benar, tak lama setelah itu 'Aun menyusul kepergian saudaranya ke alam keabadian setelah tubuhnya mendapat serangan telak dari seseorang Abdullah bin Qathanah. Arwah kedua putera Hazrat Zainab itu terbang tinggi bak dua merpati menuju kerimbunan taman-taman surgawi.

Diriwayatkan pula bahwa dua kakak beradik dari putera-putera Muslim bin Aqil juga tampil ke medan laga. Mereka adalah Abdurrahman bin Aqil dan Jakfar bin Aqil. Kedua tampil untuk mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan yang hak. Keduanya kemudian disusul lagi oleh Muhammad bin Abi Said bin Aqil yang juga tampil dengan langkah mantap untuk menerjang pasukan iblis hingga titik darah penghabisan, titik darah yang terukir abadi dalam prasasti sejarah heroisme dan duka nestapa perjuangan Ahlul Bait Nabi demi tegaknya agama Muhammad SAWW.

--------------------------------

[1] Maqtal Al-Husain hal. 120

[2] Permintaan Imam Husain as ini tentu saja bukan dalam rangka memelas kepada manusia-manusia buas yang berdiri angkuh di depan beliau, melainkan sebagai itmam alhujjah, sebagai penuntasan hujjah di depan Allah, umat manusia, dan sejarah bahwa beliau benar-benar telah disia-siakan, dianiaya, dan ditelantarkan oleh umat.

[3] Nasikh Attawarikh juz 2 hal.350

[4] Al-Khasaish Al-Husainiah hal.114

[5] Bihar Al-Anwar juz 2 hal. 355

[6] Nasikh Attawarikh juz 2 hal.355

[7] Sugand Nameh Ali Muhammad hal.227

[8] Sitaregan-e Dirahsyan hal.164

Kamis, 11 November 2010

Mazhab Ahlul Bait : Mazhab Cinta

Malam sudah larut, dinihari sudah hampir, angin dingin sahara berhembus dalam kesepian. Bukit2 batu, rumah2 tanah, pepohonan semua tak bergerak; berdiri kaku dalam rangkaian silhuet. Tapi ditengah Masjidil Haram, seorang pemuda berjalan mengitari ka’bah sambil bergantung pada tirainya. Matanya menatap langit yang sunyi. Tak seorang pun berada disitu, kecuali Thawus Al-Yamani, yang menceritakan peristiwa ini kepada kita.
Thawus mendengar pemuda itu merintih:
Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam
Semua mata makhluk-Mu telah tertidur
tapi pintu-Mu terbuka lebar, buat pemohon kasihmu.
Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu
kasihilah daku
perlihatkan padaku wajah kakekku Muhammad SAAW pada mahkamah hari kiamat. (kemudian ia menangis)
Demi kemuliaan dan kebesaran-Mu Maksiatku tidaklah untuk menentang-Mu
Kala kulakukan maksiat kulakukan bukan karena meragukan-Mu
bukan karena mengabaikan siksa-Mu
bukan karena menentang hukum-Mu
Kulakukan karena pengaruh hawa nafsuku
dan karena Kau ulurkan tirai untuk menutub aibku.
Kini siapakah yang akan menyelamatkan aku dari azab-Mu
kepada tali siapa aku akan bergantung,
kalau Kau putuskan tali-Mu malang nian daku
kelak ketika bersimpuh dihadapan-Mu
kala si ringan dosa dipanggil : jalanlah! kala siberat dosa dipanggil : berangkatlah!
Aku tak tahu apakah aku berjalan dengan si ringan atau dengan si berat.
Duhai celakalah aku bertambah umurku dan bertumpuk dosaku
tak sempat aku bertobat kepada-Mu
sekarang aku malu menghadap pada-Mu. (ia menangis lagi)
Akankah Kaubakar aku dengan api-Mu wahai Tujuan segala kedambaan lalu,
kemana harapku kemana cintaku
Aku menemui-Mu dengan memikul amal buruk
dan hina diantara segenap makhluk-Mu tak ada orang sejahat aku. (ia menangis lagi)
Mahasuci Engkau
Engkau dilawan seakan-akan engkau tiada
Engkau tetap pemurah seakan-akan Engkau tak pernah dilawan
Engkau curahkan kasih-Mu kepada makhluk-Mu seakan-akan Engkau memerlukan mereka
padahal Engkau wahai Junjunganku tak memerlukan semua itu. (Kemudian ia merebahkan diri bersujud)
Thawus bercerita: Aku dekati dia. Aku angkat kepalanya dan kuletakan pada pangkuanku. Aku menangis sampai airmataku membasahi pipinya. Ia bangun dan berkata, “Siapa yang menggangu dzikirku?” Aku berkata, “Aku Thawus, wahai putra Rasulullah. Untuk apa segala rintihan ini? Kamilah yang seharusnya berbuat seperti ini, karena hidup kami bergelimang dosa. Sedangkan ayahmu Husain bin Ali, ibumu Fathimah Az-Zahra dan kakekmu Rasulullah SAAW. Ia memandangku seraya berkata,”Keliru kau Thawus. Jangan sebut-sebut perihal ayahku,ibuku dan kakekku. Allah menciptakan surga bagi yang menaati-Nya dan berbuat baik, walaupun ia budak dari Habsyi. Ia menciptakan neraka buat yang melawan-Nya walaupun ia bangsawan Qurasy. Tidakkah engkau ingat firman Allah-Ketika sangakala ditiup, tidaklah ada hubungan lagi diantara mereka hari itu dan tidak saling tolong-menolong. Demi Allah esok tidak ada yang bermanfaat selain amal shaleh yang telah engkau lakukan.”
Yang diceritakan Thawus dalam riwayat ini tidak lain Imam Ali Zainal Abidin as. Imam keempat dalam rangkaian imam Ahli Bait Al-Mushtafa yang terkenal sebagai As-Sajjad, yang banyak bersujud. Doa-doanya dikumpulkan dalam ah-Shahifah As-Sajjadiyah; berisi kalimah-kalimah yang indah dan mengharukan. berbeda dengan doa doa yang biasa kita ucapkan, doa-doa As-Sajjad lebih merupakan ‘percakapan ruhaniyah’ dengan Allah SWT.
Doa-doa yang biasa kita baca biasanya berisi perintah2 halus kepada Allah SWT seperti “ya Allah, berilah daku rizki, panjangkan usiaku, naikkan pangkatku, dll”. Doa diatas berisi kesadaran akan kehinaan diri dan kemuliaan Allah, kemaksiatan diri dan kasih sayang Allah. Doa-doa As-Sajjad lebih mirip rintihan ketimbang permohonan. Kalimah-kalimahnya lebih mirip hubungan cintakasih antara hamba dengan Tuhan, ketimbang hubungan kekuasaan.
Ada dua cara memandang Tuhan. Kita dapat memandang Dia sebagai Zat yang jauh dari kita, berbeda sama sekali dengan kita,memiliki sifat mukhalafat lil-hawadits, mempunyai jarak dengan makhluk-Nya. Inilah Tuhan transenden dalam pandangan para filsuf dan ahli kalam. Kita juga dapat melihat Dia sebagai Zat yang lebih dekat dengan kita dari urat leher kita, selalu beserta kita, kemanapun wajah kita menghadap, disitulah wajah Allah berada. Inila Tuhan yang immanen dalam pandangan para wali-Nya. Inilah Tuhan dalam pandangan Ahli Bait. Inilah Tuhan dalam doa Ahli Bait.
Jika para filsuf berkata “Agama itu akal, tiada agama bagi orang yang tiada akal”, maka Imam Baqir as (Imam kelima Ahli Bait) berkata “Agama itu cinta, dan cinta itu agama.” Bila para filsuf sibuk menajamkan akalnya untuk menjelaskan sifat-sifat Tuhan (dan dipastikan mereka akan pusing), maka para Imam Ahli Bait membimbing para pengikutnya untuk membersihkan hatinya agar dapat menyaksikan keindahan-keindahan sifat Tuhan. Tujuan para filsuf adalah makrifat (pengenalan), dan tujuan Ahli Bait Al-Mushtafa adalah mahabbat (cinta). Pernah seorang darwis (sufi) bertanya kepada Imam Ali as berkenaan dengan derajat para pecinta-Nya. Beliau as berkata,” Derajat kecintaan paling rendah ialah memandang kecil ketaatanya dan memandang besar dosanya. Ia mengira tidak ada orang disiksa seperti dia baik didunia maupaun diakhirat.” Mendengar itu sang darwis pun pingsan. Ketika sadar lagi, ia bertanya,”Adakah derajat-derajat lain diatas itu.” Imam Ali as menjawab, “Ada. tujuh puluh derajat lagi.” Perjalanan beragama sesungguhnya tidak lain dari perjalanan seorang hamba menggapai derajat demi derajat itu, sampai ke derajat yang paling dekat dg Dia. Dalam seluruh perjalannya itu, cinta Allah menjadi sumber energinya. Imam Ali as melukiskan cinta kepada Allah dengan indahnya : Cinta kepada Allah itu laksana api apapun yang dilewatinya akan terbakar. Cinta kepada Allah itu laksana cahaya apapun yang dikenainya akan bersinar. Cinta kepada Allah itu langit apapun yang dibawahnya akan ditutupnya. Cinta kepada Allah itu laksana angin apapun yang ditiupnya akan digerakkannya. Cinta kepada Allah itu laksana air dengannya Allah menghidupkan segalanya. Cinta kepada Allah itu laksana bumi dari situ Allah menumbuhkan segalanya. Kepada siapa yang mencintai Allah, Dia berikan kekuasaan dan kekayaan.
‘Al-Mulk’ (kekuasaan) dan ‘al-milk’ (kekayaan) diberikan Allah kepada kekasih-Nya. Kata lain kekuasaan adalah ‘wilyah’, yang juga berarti kecintaan. Mazhab Ahli Bait ditegakkan diatas prinsip wilayah : Kekuasaan hanya boleh dipegang oleh orang-orang yang dicintai Allah. Imam Ali as adalah waliyullah. ke-waliyannya tidak diragukan lagi. Dia dicintai Allah, maka Rasulullah SAAW (sholallahu ‘alaihi wa alihi wassalim) pun sangat mencintainya.
Ummul mukminin ‘Aisyah menceritakan saat-saat terakhir Rasulullah SAAW. Beliau SAAW berkata “Panggilkan kekasihku.” Orang2 memanggil Abu Bakar. Beliau hanya memandang kepadanya dan meletakkan kepalanya lagi. Beliau berkata lagi,”Panggilkan kekasihku.” Orang2 memanggil Umar. beliau memandangnya dan meletakkan kepalanya. Beliau berkata ,”Panggilkan kekasihku.” Orang-orang memanggil Ali. Ketika Nabi SAAW melihat Ali, beliau memasukkan Ali keselimutnya. Tiada henti-hentinya Rasulullah SAAW memeluk Ali hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir dan tangan beliau berada diatas tangannya.
Secara terbuka Nabi SAAW mengumumkan bahwa Ali adalah orang yang mencintai Allah dan dicintai Allah. “Besok akan kuserahkan bendera ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepadanya,” kata Rasuullah SAAW pada perang Khaibar. Bendera itupub diserahkan kepada Imam Ali.
Anas bin Malik, khadam Rasulullah SAAW bercerita: Nabi SAAW mendapat hadiah daging burung. Beliau berdoa,” ya Allah, datangkanlah orang yang paling Engkau cintai supaya ia makan burung ini bersamaku.” Kemudian datanglah Ali. “Aku tolak dia.” kata Anas.Ia datang lagi, dan kutolak lagi. Ia datang lagi dan kutolak lagi. Ali masuk pada ketiga atau keempat kalinya. Nabi SAAW berkata kepadanya,”Apa yang menahanmu untuk datang kepadaku?” Ali menjawab,”Demi Yang Mengutusmu dengan hak sebagai Nabi. Aku mengetuk pintu tiga kali, tapi Anas selalu menolaknya.” (at-Turmudzi)
Perjalanan menuju kecintaan kepada Allah harus dimulai dengan mencintai Rasulullah SAAW, manusia yang paling dicintai Allah SWT. Tapi sebelum memasuki kecintaan kepada Rasulullah SAAW, kita harus mencintai orang yang paling dicintai Rasulullah SAAW (sebuah logika yang logis). Bukankan Nabi SAAW pernah berdoa,”Cintailah Allah atas nikmat-Nya kepadamu. Cintailah aku karena kecintaan kepada Allah. Dan cintailah Ahli Baitku karena kecintanmu kepadaku.” Allah berfirman,”Katakanlah (olehmu Muhammad) aku tidak meminta upah dari kalian kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (Al-Quran)
Pintu pertama untuk mencintai Allah adalah mencintai Ahli Bait Nabi. Tidak perlu disebutkan lagi bahwa Nabi SAAW tentu saja adalah orang yang paling mencintai Allah. Beliau-lah pembawa risalah. Seluruh hidupnya merupakan bagian tak terpisakan dari Firman Tuhan. Untuk memasuki kota Nubuwwah, kita harus me- masuki pintunya. Dan pintu itu adalah kecintaan kepada Imam Ali as. Lewatnya lah kita bisa mengetahui ciri-ciri orang munafik. “Tidak mencintai-mu,hai Ali, kecuali orang mukmin. Dan tidak membencimu kecuali orang munafik.” Sabda Rasulullah SAAW (Shahih Muslim). Tidak mengherankan kalau kecintaan kepada Ahli Bait telah mempersatukan kaum muslimin, apapun mazhabnya.
Al-Zamakhsyari, sufi pengikut mazhab mu’tazilah menggubah puisi dengan sangat indahnya:
Sudah banyak kebimbangan dan ikhtilaf
Semua menyatakan mazhabnya yang paing benar.
Kupegang teguh kalimah ‘La ilaha illallah’
dan kecintaan kepada Ahmad dan Ali.
Beruntung Anjing karena mencintai Ashhabul Kahfi
mana mungkin aku celaka karena mencintai keluarga Nabi.
Imam Syafi’i juga memberikan hujjahnya tentang kecintaanya kepada Ahli Bait Nabi dengan puisinya: Wahai Ahli Bait Rasulullah, kecintaan kepadamu Allah wajibkan atas kami dalam Al-Quran
yang diturunkan Cukuplah tanda kebesaranmu tidak sah sholat tanpa salawat kepadamu.
Kecintaan kepada Imam Ali as secara khusus dan kecintaan kpd Ahli Bait secara umum adalah dasar utama untuk mencintai Allah dan Rasul-ya. Karena seluruh alam semesta ini sebetulnya bergerak menuju Allah untuk meraih kecintaan-Nya, maka Allah mewajibkan kecintaan kepada Allah bagi semuanya. Boleh jadi riwayat Anas bin Malik ini harus dipahami seara metaforis. Pada suatu hari Imam Ali as memberi Bilal satu dirham untuk membeli semangka. Ketika semangka itu dibelah, dan mereka makan sedikit dan terasa pahit. Imam Ali as berkata,”Kembalikan semangka ini kepada penjualnya. Rasulullah SAAW pernah bersabda “Sesunggunya Allah mewajibkan manusia, pepohonan, buah-buahan, biji-bijian untuk mencintaimu. Siapa yang memenuhi perintah mencintaimu, ia akan menjadi bagus dan manis. Siapa yang tidak mencintaimu, ia akan menjadi buruk dan pahit. Aku kira semangka ini termasuk yang menolak mencintaiku.”
Mazhab Ahli Bait memilih perjalanan mereka kekota ilmu Rasulullah SAAW dan seterusnya keistana kecintaan Allah, melalui pintu kecintaan kepada Imam Ali as. mengapa? karena Imam Ali dan Ahli Baitnya memberikan cara mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan seluruh perilakunya. Imam Ali lah sebagai gurunya fikih para Imam mazhab empat. Dari Imam Ali turun kepada Muhammad Al-Hanafi (putranya) dan Abdullah bin Abbas. Dari keduanya lahir pula Imam Hanafi dan seterusnya Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Imam Ali as pula sebagai gurunya para Sufi. Dari beliau as lahir pribadi macam Imam Husain as, Imam Ja’far as, dan Hasan Al-Basri. Tidak pelak lagi ketiganya adalah pendekar2 dalam bidang tasawuf. Dari Imam Ali dan kemudian dari para Imam Ahli Bait Al-Mushtafa, kita belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah bintang yang memberikan keamanan kepada penduduk bumi. Mereka adalah perahu nabi Nuh as, siapa yang menaikinya akan selamat,dan siapa yang meninggalkannya akan tenggelam (al-Hakim). Mereka adalah salah satu dari dua pusaka, siapa yang berpegang teguh kepadanya tidak akan tersesat. Terakhir, mari kita lihat salah satu doa dari Imam Ali as yang juga sama indah nya dengan doa-doa Imam Ali as lainnya.
ya Allah, Junjunganku, Pelindungku, Tuhanku Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu. dan Sekiranya aku dapat bersabar panas api-Mu, mana mungkin aku dapat bersabar untuk tidak melihat kemulian-Mu. mana mungkin aku tinggal neraka padahal harapanku hanya maaf-Mu.
Demi kemulian-Mu wahai Junjunganku dan Pelindungku, aku bersumpah dengan tulus, Sekiranya Engkau biarkan aku berbicara disana, ditengah penghuninya, aku akan menangis tangisan mereka yang menyimpan harapan aku akan menjerit jeritan mereka yang menyimpan pertolongan aku akan merintih rintihan rang yang kehilangan.
Sungguh, aku akan menyeru-Mu dimanapun Engkau berada Wahai pelindung kaum mukminin Wahai Tujuan harapan kaum arifin Wahai Pelindung kaum yang memohon perlindungan Wahai Kekasih kalbu para pecinta kebenaran Wahai Tuhan seru sekalian Alam.Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Kamis, 04 November 2010

Story of masyithah



Masyithah adalah pelayan putri Fir’aun. Ia ibu yang melahirkan putra-putra berlian. Wanita yang berani mempersembahkan jiwa-raga untuk agama Allah swt. Ia seorang bunda yang memiliki sifat kasih sayang dan kelembutan. Mencintai anak-anaknya dengan cinta fitrah ibu yang tulus. Masyithoh berjuang, bekerja, dan rela letih untuk membahagiakan mereka di dunia dan di akhirat.

Bayangkan, anaknya yang terkecil direnggut dari belaian tangannya. Si sulung diambil paksa. Keduanya dilemparkan ke tengah tungku panas timah membara. Masyithah menyaksikan itu semua dengan mata kepalanya sendiri. Kalbu ibu mana yang tidak bergetar. Hati ibu mana yang tidak hancur bersama luruhnya jasad buah hatinya. Jiwa ibu mana yang tidak tersembelih dan membekaskan rasa sakit dengan luka menganga …? Masyithah melihat sendiri si sulung dan si bungsu menjerit kesakitan terpanggang di tungku timah panas membara.

Itulah peristiwa dahsyat yang dihadapi Masyithah, sosok yang menakjubkan dalam cinta kepada Allah swt. Ia seorang ibu mukminah yang sangat sabar dan memiliki anak-anak yang shalih lagi baik hati. Cinta yang bersemayam dalam hati mereka adalah gejolak iman yang mampu melahirkan sebuah pengorbanan yang sempurna. Kehidupan dunia tidak mampu mengalihkan mereka dari cita-cita meraih keridhaan Sang Pencipta. Inilah hakikat yang sebenar-benarnya: Iman yang baik akan mampu mengalahkan tarikan dunia dengan segala isinya.

TUHANKU ALLAH
Tidak diragukan lagi, siapa yang pernah merasakan pahitnya kezhaliman meskipun sesaat, mencicipi sakitnya siksaan meskipun sebentar, pasti akan tahu mengapa Rasulullah saw bersabda, ”Kezhaliman akan membawa kegelapan di hari kiamat.” (Bukhari)

Masyithah telah merasakan beragam kezhaliman dan penyiksaan. Semua ketidaknyamanan itu dihadapinya dengan tegar sampai akhirnya ia bertemu dengan Tuhannya dengan ridha dan diridhai. Masyithah mengajarkan kepada kita tentang sempurna dalam berkorban dan total dalam berderma. Ia telah sukses mendidik anak-anaknya untuk mempersembahkan nyawa mereka untuk Allah swt.

Rasulullah saw. bercerita kepada kita :
“Ketika menjalani Isra’ dan Mi’raj, aku mencium bau yang sangat harum”.
“Wahai Jibril, bau harum apa ini … ?” tanya Rasulullah.
Jibril menjawab, “Ini bau harum Masyithah , pelayan putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Saya bertanya, “Apa kelebihan Masyithah … ?”
Jibril menjawab, ”Suatu hari Masyithah menyisir rambut putri Fir’aun. Sisirnya jatuh dari tangannya. Ia berkata, “Bismillah”.
Putri Fir’aun kaget dan berkata kepadanya, “Dengan menyebut nama ayahku”.
Ia menolak, “Tidak ... Akan tetapi Tuhan saya dan Tuhan ayah kamu adalah Allah.”
Ia menyuruh putri itu untuk menceritakan peristiwa tersebut kepada ayahnya.
Putri itu pun menceritakan kepada Fir’aun. Maka Fir’aun memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Wahai Fulanah, apakah engkau punya Tuhan selain aku … ?”
Ia menjawab, “Ya, Tuhan saya dan Tuhan kamu adalah Allah.”
Fir’aun marah besar. Ia memerintahkan dibuatkan tungku besar yang diisi timah panas; agar Masyithah dan anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya. Masyithah tidak menyerah. Begitu juga anak-anaknya.
Masyithoh meminta satu hal kepada Fir’aun, “Saya minta tulangku dan tulang anak-anakku dibungkus menyatu dengan kain kafan.”
Fir’aun menuruti permintaannya.

BISMILLAH
Sungguh, Masyithah wanita terhormat lagi mulia. Ia hidup di istana raja. Ia dekat dengan kekuasaan karena tugasnya merawat anak Fir’aun. Akan tetapi keimanan kepada Allah swt. telah tertanam di kalbunya. Kadang ia menyembunyikan keimanannya seperti yang dilakukan istri atau keluarga Fir’aun yang muslim lainnya.
Bedanya ketika iman telah memenuhi kalbu, maka lisan akan mengucapkan apa yang terpendam dalam kalbu tanpa beban, tanpa paksaan, dan tanpa rasa takut. Inilah yang dilakukan Masyithah. Ia mengatakan dengan dilandasi fitrah yang suci, ”Bismillah”, tanpa memikirkan resiko yang akan dialaminya. Ia telah mengungkapkan isi kalbunya yang telah disimpannya berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Ia memproklamasikannya dengan bangga dan gembira. Bahkan, ketika putri Fir’aun memintanya untuk mengakui ketuhanan ayahnya, ia menolak tegas dengan mengatakan, ”Tuhan saya dan Tuhan ayah kamu adalah Allah.”
Ia tidak takut siksaan. Ia tidak gentar dengan kekuatan Fir’aun yang terkenal bengis dan tidak berperikemanusiaan. Apa pun yang terjadi, ia hadapi dengan tegar.

UJIAN KALBU
Sungguh ujian berat menimpa wanita mulia ini beserta anak-anaknya. Fir’aun menghukum karena mereka beriman kepada Allah swt. dan rela dengan agama yang mereka anut. Tanpa belas kasih Fir’aun melempar anak-anak Masyithah satu demi satu ke tungku besar berisikan timah panas yang mendidih. Fir’aun melakukanya untuk menakut-nakuti Masyithah. Fir’aun berharap naluri keibuan Masyithah iba akan nasib anak-anaknya dan itu membuatnya lemah lalu mau kembali mengakui Fir’aun sebagai Tuhan. Akan tetapi Allah swt. memperlihatkan kepada Fir’aun bahwa yang menggenggam kalbu Masyithah adalah diri-Nya. Apakah Fir’aun mampu menguasai kalbu seseorang yang telah beriman …? Mungkin ia bisa membunuh jasadnya, tapi mampukah membunuh ruhnya … ? Itu mustahil dilakukan Fir’aun.
Apa yang dihadapi Masyithah adalah ujian yang berat bagi kalbu orang yang beriman. Namun, dorongan keimanan yang kuat membuatnya bertahan dan keluar menjadi pemenang. Masyithah dan anak-anaknya membuktikan keimanannya kepada Allah dengan mewakafkan diri, hancur disiksa dengan cara yang sangat tidak berperikemanusiaan oleh Fir’aun.

HIKMAH DARI KISAH MASYITHAH
Masyithah telah wafat. Tapi, kisahnya belumlah berakhir. Sampai saat ini, kisahnya masih terngiang di telinga orang-orang yang rindu bertemu dengan Allah swt. Karena, Masyithah telah memberi cambuk yang senantiasa memotivasi kita untuk meraih kehidupan yang baik dan lebih baik lagi.
Ada sejumlah pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Masyithah, di antaranya:

• Iman adalah senjata yang sangat ampuh. Karena, iman adalah kekuatan yang bersumber dari ma’iyatullah (kebersamaan dengan Allah swt dan lindungan-Nya). Allah swt berfirman, ”Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl:128)
• Sabar dalam menghadapi cobaan dan teguh dalam pendirian, itulah yang dibuktikan oleh Masyithoh dan anak-anaknya. Rasulullah saw bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibanding mukmin yang lemah, dan masing-masing dari keduanya mendapatkan kebaikan.” (Muslim)
• Selalu ada permusuhan abadi antara hak dan batil, antara kebaikan dan keburukan. Meskipun keburukan banyak dan beragam, namun pasti ujungnya akan lenyap. Karena yang asli adalah kebaikan.
• Allah swt. akan meneguhkan orang-orang yang beriman ketika mereka dalam kondisi membutuhkan keteguhan tersebut. Sebab, ujian itu sunnatullah. Pasti akan datang kepada setiap orang yang mengaku beriman.
• Muslim yang sejati tidak akan tunduk kecuali kepada Allah swt. Dan ia senantiasa melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
• Peran dan kontribusi kaum wanita muslimah tidaklah lebih kecil dibanding pria dalam mengibarkan panji kebenaran. Para wanita memiliki peran yang besar dalam dakwah ilallah sejak zaman dahulu. Syahidnya Masithah akibat siksaan Fir’aun adalah bukti puncak pengorbanan yang pernah dilakukan wanita dalam sejarah.
• Balasan amal yang didapat seseorang adalah sesuai dengan kadar amal perbuatan itu sendiri. Allah swt. telah menghancurkan Fir’aun dan menghinakannya namanya dalam catatan sejarah yang akan terus dikenang sepanjang kehidupan manusia sebagai manusia terjahat. Sedangkan Masyithah diabadikan namanya dengan harum, dan menjadikan dirinya dan anak-anaknya wangi semerbak di tujuh lapis langit, karena perbuatannya yang baik. Jibril menceritakam hal ini kepada Rasulullah, dan Rasulullah menyampaikannya kepada kita untuk dijadikan teladan.
• Allah swt. tidak akan menyiksa seseorang karena dosa orang lain.
• Sungguh, cerita seperti ini berulang dan akan terus berulang sepanjang waktu. Selalu akan ada orang zhalim dengan beragam bentuk kezhalimannya, dan selalu ada orang yang akan menentang mereka meski tahu ada siksaan dan cobaan menyertai usaha baiknya itu. Kisah tetap satu: cobaan akan terjadi, tapi para pahlawan selalu memiliki kemiripan.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Ar Rum: 47 :
”Dan sesungguhnya kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa, dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”

The story of Ashabul kahfi

Mereka adalah para pemuda yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala serta Dia mengilhami mereka keimanan, sehingga mereka mengenal Allah dan mengingkari keyakinan kaum mereka yang menyembah berhala. Mereka mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah akidah mereka disertai dengan perasaan takut akan kekejaman dan kekerasan kaum mereka, seraya berkata, artinya,

“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian ،K.” (Al-Kahfi: 14), yakni jika seruan kami ditujukan kepada selain-Nya, ،§maka sungguh kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al-Kahfi: 14), yakni perkataan keji, dusta dan zhalim. Sedangkan “kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah.” (Al-Kahfi: 15).
Setelah mereka sepakat mengenai keyakinan tersebut dan menyadari bahwa mereka tidak mungkin menjelaskannya kepada kaum mereka, maka mereka memohon kepada Allah Ta’ala supaya dimudahkan urusan mereka, artinya, “Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Al-Kahfi: 10).
Kemudian mereka berlindung ke gua, lalu Allah Subhannahu wa Ta’ala memudahkan urusan mereka, melapangkan lubang gua serta menempatkan pintunya di sebelah utara, sehingga tidak terkena sinar matahari; baik ketika terbit maupun saat terbenam, dan mereka tertidur dalam gua di bawah penjagaan serta perlindungan Allah Subhannahu wa Ta’ala selama tiga ratus sembilan tahun. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah melindungi mereka dari rasa takut, karena posisi mereka (gua) berdekatan dengan kota kaum mereka.
Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi mereka dalam gua tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,artinya, “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri” (Al-Kahfi: 18), supaya bumi tidak membusukan tubuh mereka.
Kemudian Allah Subhannahu wa Ta’ala membangunkan mereka setelah tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama “supaya mereka saling bertanya diantara mereka sendiri.” (Al-Kahfi: 19). Akhirnya mereka menemukan jawaban yang sesungguhnya, sebagaimana hal tersebut ditegaskan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, artinya,
“Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini).” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19). Allah Subhannahu wa Ta’ala menjelaskan kisah ini hingga akhir.
Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Dan Faidah-Faidah Yang Dapat Diambil Dari Kisah Tersebut
Di dalam kisah tersebut terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan faidah-faidah yang bermanfaat, di antaranya:
* Bahwa kisah ashhabul kahfi, meskipun sangat mengagumkan, tetapi bukan merupakan tanda kekuasaan Allah Subhannahu wa Ta’ala yang paling mengagumkan, karena Allah Subhannahu wa Ta’ala memiliki tanda-tanda kekuasaan tersendiri dan kisah-kisah lain yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi orang-orang yang berkenan merenungkannya.
* bahwa orang yang memohon perlindungan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, maka Allah akan melindungi dan menyayanginya, dan menjadikan nya sebab-sebab untuk menunjukkan orang-orang yang sesat. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah melindungi ashhabul kahfi dalam tidur mereka yang cukup lama dengan memelihara keimanan dan tubuh mereka dari gangguan serta pembunuhan kaum mereka dan Allah Subhannahu wa Ta’ala menjadikan bangunnya mereka dari tidur mereka sebagai tanda kesempurnaan kekuasaan-Nya, kebaikan-Nya yang banyak dan bermacam-macam, supaya hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah Subhannahu wa Ta’ala pasti benar.
* Adalah perintah menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat dan mendiskusikannya, karena Allah Ta’ala telah mengutus mereka untuk tujuan tersebut dan mengilhami mereka untuk berdiskusi di antara mereka seputar keyakinan mereka dan pengetahuan masyarakat mengenai keyakinan atau perilaku mereka sehingga diperoleh bukti-bukti dan pengetahuan bahwa janji Allah pasti benar dan sesungguhnya kiamat itu pasti terjadi tanpa ada keraguan di dalamnya.
* Adalah berkenaan dengan etika seseorang yang merasa samar mengenai sesuatu ilmu, maka hendaklah ia mengembalikannya kepada gurunya dan berusaha untuk memahami dengan seksama pelajaran yang telah diketahuinya.
* Bahwa sah mewakilkan dan mengadakan kerja sama dalam jual beli. Hal tersebut merujuk perkataan mereka,artinya, “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini”, kemudian “،K maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19).
* Bahwa diperbolehkannya memakan makanan yang baik-baik dan memilih makanan-makanan yang layak dan sesuai dengan selera seseorang selama tidak melebihi batas-batas kewajaran. Sedang jika melebihi batas-batas kewajaran maka hal tersebut termasuk perbuatan yang dilarang. Hal itu didasarkan kepada perkataan salah seorang dari mereka,artinya, “،K dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19).
* Adalah berkenaan dengan anjuran supaya memelihara, melindungi serta menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah dalam urusan agama dan harus menyembunyikan ilmu yang mendorong manusia berbuat jahat.
* Adalah berkenaan dengan keterangan yang menjelaskan perhatian dan kecintaan para pemuda itu kepada agama yang benar, pelarian mereka untuk menjauhkan diri dari semua fitnah dalam urusan agama mereka dan pengasingan diri mereka dengan meninggalkan kampung halaman serta kebiasaan mereka untuk menempuh jalan Allah Subhannahu wa Ta’ala.
* Adalah berkenaan dengan keterangan yang menjelaskan hal-hal yang tercakup dalam kejahatan, seperti kemadharatan dan kerusakan yang mengundang kemurkaan Allah ƒ¹ dan kewajiban meninggalkannya, dan meniggalkannya merupakan jalan yang harus ditempuh oleh kaum mukminin.
* Bahwa firman Allah Subhannahu wa Ta’ala,artinya, “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.” (Al-Kahfi: 21) menunjukkan bahwa orang-orang yang berkuasa yang dimaksud ialah para penguasa ketika mereka dibangunkan dari tidur mereka yaitu para penguasa yang telah beragama dengan agama yang benar, karena para penguasa itu mengagungkan dan memuliakan mereka, sehingga para penguasa tersebut berniat membangun sebuah rumah peribadatan di atas gua mereka.
Meski hal itu dilarang khususnya dalam syari’at agama, maka yang dimaksud ialah menjelaskan tentang ketakutan luar biasa yang dirasakan Ashhabul Kahfi ketika membela dan mempertahankan keimanan mereka sehingga harus berlindung di sebuah gua dan setelah itu Allah Subhannahu wa Ta’ala membalas perjuangan mereka dengan penghormatan dan pengagungan dari manusia. Hal itu merupakan kebiasaan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam membalas seseorang yang telah memikul penderitaan karena-Nya serta menetapkan baginya balasan yang terpuji.
* Bahwa pembahasan yang panjang lebar dan bertele-tele dalam masalah-masalah yang tidak penting; maka hal itu tidak perlu mendapatkan perhatian yang serius. Hal itu merujuk firman Allah Ta’ala,artinya, “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (Al-Kahfi: 22).
* Bahwa bertanya kepada seseorang yang tidak berilmu dalam masalah yang akan dimintai pertanggungan jawab di dalamnya atau orang yang tidak dapat dipercaya adalah terlarang. Hal itu merujuk firman Allah Ta’ala,artinya, “،K dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (Al-Kahfi: 22).
Sumber: Qishash al Anbiya،¦, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa،¦di, kisah no 33 dan 34. (Abu Hilmi)


web site counter