Laman

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tampilkan postingan dengan label Sejarah masa depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah masa depan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

SIAPA SESUNGGUHNYA IMAM ZAMAN ITU ?

Tags: madzhab , syi'ah , wahabi , konsep islam , ahlul bayt , 12 imam , dialog madzhab , imam ali Prev: DISKUSI DENGAN WAHABI TENTANG 12 PEMIMPIN YANG DIJANJIKAN NABI (3) Next: DISKUSI DENGAN WAHABI TENTANG 12 PEMIMPIN YANG DIJANJIKAN NABI (5) 12 PEMIMPIN DALAM KONTROVERSI: MENYOAL KEYAKINAN WAHABI TENTANG 12 PEMIMPIN YANG ADA DALAM HADITS-HADITS SAUDARA AHLU SUNNAH (bagian 4) قل إنما أنذركم بالوحي ولا يسمع الصم الدعاء إذا ما ينذرون “Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan" (QS. Al- Anbiyaa: 45) إن هو إلا وحي يوحى “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” ( QS. An-Najm: 4) ------------------------------------------------------------------------------------------------- ------------------------ Al-Ustadz Alvaen El-Mahbub bertanya kepada saya dalam lanjutan diskusi di FACEBOOK. Untuk mempersingkat waktu (berhubung tulisan beliau sangat panjang sehingga terpaksa saya membuat rangkuman dan menjadikan pekerjaan saya berlipat ganda karena selain harus menjawab juga harus merangkum), saya akan tuliskan rangkuman dari pertanyaan itu, mudah- mudahan saya tidak keliru: Al-Ustadz Alvaeni El-Mahbubi menulis dalam FB sebagai berikut: #: pertama yang harus anda jawab adalah : * adakah hadist 12 imam itu adalah arahan dan petunjuk kepada umat muslimin terhadap apa yang harus mereka lakukan di masa yang akan datang di tangan 12 khalifah..?? *atau hadist tersebut hanya memberi kahabar terhadap keadaan umat muslimin di bawah tangan 12 khlaifah ?? (memberi khabar terhadap apa yang belum terjadi/ghaib (saya kutip apa adanya tanpa mengubah apapun termasuk salah ketik yang sering beliau lakukan)  ------------------------------------------------------------------------------------------------- ------------------------ Jawaban saya adalah sebagai berikut: Pertama kali izinkan saya untuk menuliskan hadits-hadits yang berkenaan dengan wajibnya kita memiliki Imam. Pengikut Ahlul Bayt (kaum Syi’ah) sama seperti halnya pengikut Ahlu Sunnah percaya akan adanya suatu keharusan untuk mentaati seorang pemimpin karena Allah telah berfirman dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul ( sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An- Nisaa: 59) Ketaatan yang disebutkan untuk pemimpin itu (dalam ayat tersebut) disejajarkan dengan ketaatan terhadap Allah dan RasulNya. Jelas akal kita berkata: “Pastilah itu bukan sekedar pemimpin” karena kalau hanya sekedar pemimpin, maka nantinya akan ada kerancuan. Misalnya: anda mengikut seorang pemimpin yang dzalim, sedangkan ayat al-Qur’an menyuruh kita untuk mentaati mereka dan ketaatan kepada mereka disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Maka kalau kita mengikuti pemimpin yang dzalim itu maka kita akan dihadapkan kepada satu dilema. Apa itu? Kita harus mengikuti kebijakan pemimpin yang dzalim yang ternyata misalnya kebijakannya bertentangan dengan ajaran Allah di sisi lain anda harus mengikuti ajaran Allah yang bertentangan dengan kebijakan buruk dari sebuah pemerintahan yang buruk. Jelas itu konyol dan tidak bisa masuk di akal sehat. KESIMPULANNYA IALAH: 1. PASTILAH PEMIMPIN YANG DIMAKSUD ITU BUKAN SEKEDAR PEMIMPIN. 2. PEMIMPIN YANG DIMAKSUD OLEH AL-QUR’AN (yang ketaatan kepada mereka disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya) PASTILAH PEMIMPIN YANG DITUNJUK OLEH ALLAH DAN RASULNYA (lihat lagi QS. AL- BAQARAH: 124 , yang tidak pernah berani anda bahas). PEMIMPIN YANG TERPELIHARA DARI DOSA (karena kalau ia melakukan suatu perbuatan dosa, dan kita tidak boleh menentangnya maka kita pada saat yang sama telah menentang Allah dan RasulNya). PEMIMPIN YANG DIJANJIKAN KEPADA KITA UNTUK MENGURUSI KITA (seperti yang diwasiatkan dalam hadits-hadits 12 pemimpin). 3. JELAS SEKALI HADITS-HADITS YANG PERNAH SAYA SAMPAIKAN (yang membuat anda dan santri anda dalam kebingungan dan kehiruk-pikukan) MENYIRATKAN ADANYA PEMIMPIN (yang jumlahnya 12 seperti yang dijanjikan) YANG WAJIB UNTUK DITAATI; YANG KETAATAN KEPADA MEREKA DISEJAJARKAN DENGAN KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA. 4. DENGAN DEMIKIAN KESIMPULAN 1 SAMPAI 3 MENAPIKAN PENDAPAT YANG ASAL-ASALAN (karena tidak didukung oleh dalil dan hujan yang mapan) YANG MENYEBUTKAN BAHWA HADITS ITU SEKEDAR MEMBERITAHU TENTANG APA YANG AKAN TERJADI DI MASA DEPAN. MA’AF, PENDAPAT ANDA ITU MENGGELIKAN (karena Rasulullah bukanlah seorang tukang nujum atau peramal yang hanya memberitahu keadaan masa depan tanpa ada  pembelajaran  di dalamnya. Rasulullah memberitahu kita tentang yang 12 itu  agar kita kelak mengikuti mereka dan bukan menentangnya . Merekalah yang dijanjikan dan anda tahu itu tapi malu mengakuinya).   BAGAIMANA KATA HADITS TENTANG KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMIMPIN? Berikut akan saya paparkan beberapa hadits tentang kewajiban untuk memiliki, mengikuti dan mentaati pemimpin  atau  imam . 1. “Barangsiapa mati tanpa imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah” (lihat  Majma’ az-Zawa’id , jilid 5 , halaman 218 ; lihat juga Abu Dawud,  Musnad,   halaman 259 dari jalur ‘Abdullah bin Umar dan ditambahkan:  “Dan barangsiapa menolak untuk taat, maka pada hari kiamat ia tidak punya hujjah, pembelaan”) 2. “Barangsiapa mati tanpa berbai’at maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah” (lihat  Shahih Muslim , jilid 6 , halaman 22 ; lihat juga Baihaqi,  Sunan , jilid 8 , halaman 156 ; kemudian Ibnu Katsir dalam  Tafsir , jilid 1 , halaman 517 ; Al- Haitsami dalam  Al-Majma’ , jilid 5 , hal. 218)  3. “Barangsiapa meninggal dan tiada ketaatan (kepada imam), maka ia telah meninggal dalam keadaan jahiliyah” (lihat Imam Ahmad dalam  Musnad , jilid 3 , hal. 446 ; Haitsami dalam  al-Majma’ , jilid 5 , hal. 223)  4. “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah” (lihat Al-Taftazani,  Syarh al-Maqashid,  jilid 2 , hal. 275. Ia mengeluarkan  hadits ini dalam hubungan ayat (QS. An-Nisaa: 59) yang saya kutipkan di atas. Syaikh ‘Ali al-Qari,  Al-Marqat fi Khatimah al-Jawahir al-Madhiyah , jilid 2 , hal. 509 , dan pada hal. 457 tatkala mengutip Shahih Muslim yang berbunyi: “ Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”,  ia menambahkan bahwa arti hadits tersebut adalah:  “seseorang yang tidak mengetahui bahwa ia wajib mengikuti tuntunan imam pada zamannya.   Cukup 4 saja hadits yang saya sampaikan sebagai contoh. Hadits yang serupa anda bisa lihat di literatur yang lain. Perkenankanlah saya menutup tulisan ini dengan kesimpulan lain untuk menambahkan dan menegaskan kesimpulan sebelumnya.   KESIMPULAN: 1. ADALAH CEROBOH DAN NAIF SEKALI KALAU MENGATAKAN BAHWA HADITS NABI TENTANG 12 IMAM ITU SEBAGAI HADITS UNTUK MEMBERITAHU TENTANG MASA DEPAN TANPA ADANYA KONSEKWENSI UNTUK MENGIKUTI MEREKA YANG DIJANJIKAN KEDATANGANNYA DALAM HADITS ITU 2. HADITS RASULULLAH ADALAH WAHYU YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH KARENA RASULULLAH TIDAK PERNAH BERKATA KECUALI WAHYU YANG DIKATAKANNYA (lihat ayat al-Qur’an yang saya petikkan di awal pembahasan, An-Najm ayat 4) JADI RASULULLAH TIDAK PERNAH MAIN-MAIN DENGAN UCAPANNYA. KALAU BELIAU MENYEBUT ADA 12 PEMIMPIN, MAKA ITU BERKONOTASI WAJIB MENGENALI MEREKA, DAN WAJIB MENGIKUTI MEREKA ( lihat lagi ayat al-Qur’an, An-Nisaa: 59) 3. KESIMPULAN DI ATAS DITAMBAH KESIMPULAN SEBELUMNYA SUDAH MENJAWAB BANYAK PERTANYAAN ANDA SEKALIGUS   ------------------------------------------------------------------------------------------------- ------------------------ SEMOGA ILMU ANDA DAN PEMAHAMAN ANDA ATAS AGAMA DITAMBAHKAN LEWAT DISKUSI INI. AMIN. MASIH BERSAMBUNG…………………

Senin, 07 Februari 2011

Sejarah akan selalu berulang

Sejarah Berulang; 1979 di Iran dan 2011 di Mesir Hari-hari ini sikap para pejabat Amerika dalam menghadapi kebangkitan rakyat Mesir dan Tunisia mengingatkan perilaku mereka terhadap Revolusi Islam rakyat Iran pada tahun 1979. Tepat 32 tahun yang lalu hari-hari ini para pejabat AS kelabakan mengikuti perkembangan Iran. Pada saat-saat itu, langkah terakhir yang dapat dilakukan adalah pertama menyelamatkan Shah Pahlevi dan menyerahkan pemerintahan kepada tokoh boneka mereka. Hari-hari ini, situasi Tunisia dan Mesir sama seperti Iran. Pasca dukungan mutlak Amerika atas para penguasa diktator dan korup, tiba-tiba mengumumkan bahwa pemerintah harus melakukan reformasi dan perubahan. Lebih menarik lagi, segala bentuk reformasi yang diusulkan tidak memuaskan rakyat dan pada akhirnya mereka terpaksa memikirkan opsi yang diinginkan, bahkan para jenderal ditugaskan untuk melakukan kudeta. Sekalipun dalam Revolusi Islam para pejabat Amerika lebih terkesan berhati-hati, namun secara umum perilaku mereka tidak berbeda. Noam Chomsky, kritikus Amerika mengatakan, "Ketika Amerika melihat para diktator yang dekat dengan AS bakal lengser, maka kebijakan seperti biasanya yang akan diambil. Ketika kekuasaan diambil dari pribadi-pribadi seperti ini dan militer tidak mampu menguasai situasi, tiba-tiba AS berubah dan mengambil sikap 180 derajat." Menurutnya, dalam kondisi yang semacam ini AS biasanya mengklaim sejak awal berada bersama rakyat. Dengan cara ini, mereka dapat mengembalikan kekuasaan lama dengan wajah baru. Kebijakan seperti ini terkadang berhasil atau tidak tergantung pada kondisi di lapangan. Stabilitas politik dan perlindungan kepentingan AS dan Israel, ekspor minyak dan mencegah pengaruh komunis Uni Soviet merupakan variabel yang menentukan strategi hubungan Amerika dengan Iran. Selain masalah minyak dan pengaruh komunis, seluruh faktor yang ada sama antara Iran dan Mesir. Artinya, prioritas utama AS di Timur Tengah sebenarnya bukan masalah demokrasi, tapi yang terpenting bagi AS adalah stabilitas negara-negara demi membantu terealisasinya kepentingan AS. Di Iran, Amerika berusaha mengorganisir kudeta 19 Agustus 1953 guna menghentikan proses demokrasi di negara ini, sementara di Mesir, tidak pernah ada tekanan dari pihak AS kepada pemerintah untuk menerapkan kebebasan politik dan reformasi demokrasi. Oleh karenanya, rezim Mohammad Reza Pahlevi dan Hosni Mubarak dengan tenang menumpas gerakan rakyat yang menuntut diberlakukannya demokrasi di negara ini dan melanggar HAM. Hal ini dilakukan dengan satu kepastian dari AS bahwa hubungan mereka dengan Washington tidak akan bermasalah. Satu poin lagi yang patut diperhatikan adalah standar ganda Amerika terkait HAM dan demokrasi di Timur Tengah. Nilai-nilai HAM dan demokrasi berada di bawah upaya melindungi stabilitas dan kepentingan AS di kancah internasional. Iran di masa Shah dan periode saat ini Mesir merupakan dua contoh dari kebijakan standar ganda ini. Departemen Luar Negeri dan Dinas Rahasia Amerika juga tampaknya terkejut atas peristiwa yang terjadi di Mesir yang memiliki kesamaan dengan Iran. Sebelumnya mereka beranggapan bahwa pemerintah Hosni Mubarak cukup kuat. Ini pandangan yang sama terkait kekuasaan Shah Pahlevi. Ketika rakyat Iran di tahun 1979 mulai bangkit, Deplu AS dan CIA kebingungan hebat. Pada awalnya mereka melihat instabilitas yang terjadi hanya sementara dan berpikiran bahwa Shah dapat mengembalikan kondisi ke situasi semula dan melakukan reformasi politik. Namun cepatnya perubahan yang terjadi membuat Amerika segera berusaha mencari solusinya. Pada awalnya mereka berusaha memperkuat Shah dan lewat sejumlah reformasi politik dan mengganti sejumlah pejabat dengan harapan situasi lebih tenang. Di sini, kebijakan yang diambil terhadap para oposisi yang moderat dilakukan lebih ringan, tapi sebaliknya, bersikap keras terhadap mereka yang ekstrim. Faktanya, sekalipun AS berusaha dengan segala macam cara untuk menstabilkan dan memperluas kekuasannya di kawasan Timur Tengah, tapi transformasi terbaru di Tunisia, Mesir, Yordania, Yaman dan bahkan Arab Saudi menunjukkan kondisi telah keluar dari kontrol Amerika. (IRIB/SL/MF)

Kamis, 02 Desember 2010

Penunjukan Imam


Telah kami jelaskan pada pembahasan yang lalu, bahwa sekiranya penutupan kenabian tidak dilengkapi oleh penunjukkan imam maksum akan bertentangan dengan Hik-mah Ilahiyah.Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam dan khalifah yang saleh, maksum, alim, serta memiliki—kecuali kenabian dan kerasulan—kewenangan-kewenangan yang dimiliki oleh Nabi saw setelah kemangkatan beliau.
Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang tak terbilang jumlahnya, sebagaimana telah dinukil oleh ulama Syi’ah—bahkan oleh ulama Ahlusunah—di dalam sumber-sumber mereka. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma'idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”
Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.
Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”
Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.
Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.
Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.
Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:
“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”
Serempak mereka menjawab:
“Benar, ya Rasulullah ….”
Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”
Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”
Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.
Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”
Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’
Rasul menjawab, 'Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’
Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’
Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga."[1]
Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.
Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)
Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.
Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari "Ghadir" ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.
Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi'tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, "Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat" (QS.As-Syu'ara: 214)
Lantas beliau berseru kepada keluarganya, "Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian."
Kedua mazhab besar Ahlusunah dan Syi'ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]
Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian." (QS. An-Nisa’: 59)
Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati "Ulil Amri" secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.
Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?"
Rasulullah saw menjawab, "Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama "Al-Baqir" dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja'far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja'far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir."[3]
Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.
Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja'far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi'ullaha Wa Athi'urrasula Wa Ulil Amri minkum.’
Beliau menjawab, "Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein."
Kembali aku bertanya, "Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur'an?"
Imam Ja'far Ash-Shadiq as menjawab, "Katakanlah kepada mereka, 'Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada "Kitabullah" dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, 'Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.'"
Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, "Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak."
Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi'ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.
Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa'i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam."[4]
Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah "Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti."[5]
Dan puluhan hadis lainnya yang pernah disampaikan oleh beliau sehubungan dengan wasiat mengenai wilayah Imam Ali as Kami kira bukan pada tempatnya untuk menukil semua hadis tersebut di tempat yang terbatas ini.[]
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1. Apakah ayat yang berkaitan dengan penentuan Imam? Jelaskan argumentasi ayat tersebut!
2. Terangkan peristiwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib as sebagai imam!
3. Mengapa Nabi saw tidak segera menyatakan imamah Ali as? Dan bagaimana Nabi saw. melaksanakan tugas tersebut?
4. Sebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan imamah seluruh imam maksum as!
5. Jelaskan riwayat-riwayat yang menunjukkan imamah Ahlulbait as!

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.
[2] Bisa dirujuk ke 'Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.
[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi' al-Mawaddah, hal. 494.
[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.
[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa'iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

Selasa, 09 November 2010

Semerbak Harum Mahdi as 5

Salam kepada para penanti Imam Mahdi af yang sangat mengharapkan kedatangannya ke muka bumi ini. Salam kepada umat yang melihat ufuk harapan dengan kedatangan Imam Mahdi af. Salam kepada Imam Mahdi yang merupakan hujjah yang terselubung di balik keghaibannya. Imam Mahdi af adalah sosok yang sama dengan figur para nabi dan poros kebangkitan. Kami terus menanti kedatangan Imam Mahdi as. Melalui kesuciannya dan kebesarannya, keadilan di seluruh penjuru di dunia akan tegak. Tidak sedikit orang yang mengenal istilah penantian. Namun jika keyakinan tersebut dihubungkan dengan kemunculan Imam Mahdi as, maka makna penantian itu mempunyai arti besar. Menurut agama Islam, penantian merupakan keimanan yang kokoh pada keimamahan atau kepimpinan Imam Mahdi as dan rasa optimis akan kemunculan Hujjah Ilahi atau Imam Mahdi af, yang melaluinya kezaliman akan sirna dan keadilan akan tegak.
Pada dasarnya, penantian dapat diartikan dengan kerinduan manusia akan pencapaian kondisi yang lebih baik dan ideal. Masalah ini merupakan hal yang sangat bernilai bagi manusia. Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei ketika berbicara mengenai aspek-aspek penantian, mengatakan, "Dalam satu aspek, penantian sama halnya dengan ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Pernyataan "Kami menanti" dapat diartikan bahwa apa yang kami lakukan tidaklah cukup dan masih kurang. Kami terus menanti terpenuhinya kapasitas kebaikan di alam semesta ini. Dari aspek lainnya, penantian adalah optimisme kaum mukmin akan masa depan. Penantian seorang dapat diartikan dengan tersebarnya pemikiran yang gamblang, yang merupakan pemikiran ilahi sebuah umat manusia. Sisi lain juga menjelaskan bahwa penantian berarti seorang penanti akan bergerak dengan penuh harapan dan dorongan yang kuat. Spirit penantian mengajarkan manusia untuk melakukan perjuangan demi kebaikan dan maslahat."
Mengingat berbagai interpretasi soal kebangkitan dan revolusi Imam Mahdi af, penantian kemunculan Imam Mahdi af ditafsirkan dengan dua interpretasi, positif atau konstruktif dan negatif atau destruktif. Penantian negatif atau destruktif merupakan bentuk penafsiran dangkal soal Imam Mahdi as. Sekelompok orang mengatakan, kita harus menanti hingga pada tahap kebatilan menguasai dunia dan kebenaran tidak mempunyai pendukung. Melalui pandangan tersebut, seseorang berkeyakinan Imam Mahdi dengan sendirinya akan muncul di muka bumi ini setelah kerusakan tersebar di seluruh penjuru.
Menurut para pendukung pandangan ini, segala upaya melawan kezaliman sepatutnya dikecam. Ini adalah bentuk penantian negatif yang mengajak seseorang supaya melepaskan langkah konstruktif dan perbuatan baik. Sebagai contoh, kita bersikap diam dalam menyikapi ketidakadilan dan menanti kedatangan Imam Mahdi af untuk meluruskan kondisi yang ada. Interpretasi keliru ini mengakibatkan berbagai dampak yang membuat kehancuran dan ketidakpedulian atas kondisi masyarakat. Tentu saja, pandangan seperti itu tidak selaras dengan ajaran-ajaran Islam.
Sementara itu, penantian positif dan konstruktif diartikan dengan seseorang yang bertanggungjawab akan kondisi masyarakat. Penantian semacam ini mendorong seseorang bersikap konsisten dan tidak apatis. Interpretasi penantian konstruktif juga bersumber dari ayat-ayat Al-Quran dan berbagai riwayat hadis. Berbagai ayat menyebutkan bahwa kemunculan Imam Mahdi as merupakan poros terpenting dalam perlawanan antara kubu kebenaran dan kebatilan, yang pada akhirnya dimenangkan oleh kubu kebenaran.
Dengan ibarat lain, penantian akan kemunculan Imam Mahdi af adalah sebuah harapan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah swt dalam Surat Qashash ayat 5 berfirman, "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikannya orang-orang yang mewarisi bumi'.
Kemunculan Imam Mahdi af merealisasikan idealisme yang tercantum di kitab-kitab samawi dari masa ke masa dan telah dijanjikan kepada orang-orang yang saleh. Dalam surat Anbiya ayat 105 disebutkan, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam Lauhul Mahfuzz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba Ku yang saleh".
Para pendukung interpretasi positif penantian Imam Mahdi af meyakini bahwa dalam sepanjang sejarah senantiasa terjadi konflik antara kubu yang tengah berkembang dan kubu yang tengah hancur, dan pada akhirnya, proses pergerakan dan perubahan berpihak pada kubu yang tengah berkembang. Para pasukan yang menanti kemunculan Imam Mahdi as senantiasa berusaha membentuk diri dan melawan kezaliman untuk menuju ke arah pencerahan dan persiapan menyambut kedatangan Imam Mahdi af. Rasulullah saw menyebutnya sebagai penantian yang termulia.
Beliau bersabda, "Berbahagialah para penanti yang mengalami masa kemunculan atau dzuhur Imam Mahdi af. Merekalah para pengikut Imam Mahdi af sebelum kebangkitannya. Mereka bersahabat dengan sahabatnya dan bermusuhan dengan musuhnya".
Penantian konstruktif dapat menghubungkan sang penanti dengan Imam Mahdi af. Umat manusia secara psikologis mempunyai hubungan dengan Juru Selamat Dunia. Mereka mengeluhkan kondisi tidak aman dan berbagai problema, dan kemudian mengharapkan pertolongannya dan menjalin komitmen dengan Juru Selamat Dunia. Penantian semacam ini mempunyai nilai yang luar biasa.
Seseorang yang menjalin hubungan dengan pusat kemuliaan ilahi akan mendapat taufik dan peluang lebih besar untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Pada prinsipnya, hubungan seseorang dengan manifestasi kekuatan dan keadilan Ilahi membuat manusia terus berkembang dan mempersiapkan sarana manusia untuk lebih sempurna. Sangatlah jelas bahwa perhatian pada pusat cahaya harus dilandasi dengan ketulusan dan kesungguhan.(IRIB)

Semerbak Harum Mahdias 4

Semerbak Imam Mahdi as 4
Ketika kalian memikirkannya, maka aroma melati putih akan dapat kalian rasakan. Ia adalah sosok penderma, yang selalu mengasihi orang-orang yang papa dan memerlukan pertolongan. Ia selalu tunduk dan khusyu' di hadapan Allah swt, namun pada saat yang sama ia sangat tegas dan keras dalam menyikapi para orang-orang zalim. Mahdi as adalah teladan manusia sempurna. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, ia tidak mengejar tujuan lain kecuali ridha dari Allah swt. Adapun mengenai orang-orang zalim dan sombong Imam Mahdi as mengatakan, "Pada masa kebangkitanku nanti, aku tidak akan menerima baiat dari para taghut". Keadilan adalah poros programnya. Persahabatan, permusuhan, kesabaran, perlawanan, dan bahkan masalah penghibahan, bagi beliau harus berdasarkan keadilan. Imam Mahdi as sangat bertawakal kepada Allah swt dan hanya pada kekuatan-Nya, Imam Mahdi as bersandar. Dalam hal ini ia mengatakan, "Pasti bahwa Allah bersama kita. Maka kita tidak memerlukan siapapun". Dengan kemunculannya nanti, Imam Mahdi as akan menegakkan kebenaran dan menyelaraskan seluruh akidah sesuai dengan ajaran Al-Quran. Ia mengatakan:"Ketika Allah swt mengizinkan kita, maka kebenaran akan berkuasa dan kebatilan akan sirna".
Ujian dan cobaan merupakan sunnah penting Allah yang berlaku di setiap masa dan di setiap tahap kehidupan manusia. Dengan demikian tingkat komitmen manusia pada pokok dan keyakinannya dapat terbukti. Berdasarkan hal ini, salah satu hikmah penting ghaibah Imam Mahdi as adalah cobaan bagi umat manusia. Termasuk di antara ujian Allah swt pada masa ghaibah adalah pengukuran tingkat keimanan dan ketaatan manusia.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa pada masa ghaibah tersebut, manusia akan merasakan kesulitan yang hebat untuk tetap komitmen terhadap keyakinan agama mereka. Pada masa ghaibah, musuh akan menggunakan berbagai macam cara guna mencegah upaya masyarakat untuk mengetahui kebenaran dan hakikat, mulai dari propaganda pemikiran hingga budaya. Oleh karena itu salah satu imbauan penting agama pada masa ghaibah adalah komitmen terhadap agama dan nilai-nilainya. Dalam hal ini Imam Mahdi as mengatakan, "Setelah ghaibah masyarakat akan mengalami kebingungan".
Untungnya banyak orang yang berhasil lolos dari ujian tersebut. Mereka bukan hanya tidak melepaskan keimanan mereka terhadap Allah swt, bahkan terus berupaya untuk meningkatkannya. Pada masa ghaibah akan muncul berbagai macam pemerintahan diktator, demokrasi, sekuler, dan lain-lainnya. Masyarakat pada masa itu akan menyadari tujuan yang sebenarnya pemerintahan tersebut.
Mereka sama sekali tidak memperhatikan masalah keadilan sosial. Pada masa ujian ini, umat manusia pada akhirnya menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi kezaliman, perang, dan fitnah adalah dengan kembali kepada spiritualitas dan agama. Saat ini kita menyaksikan instabilitas di berbagai sektor kehidupan dan ini diakibatkan oleh jauhnya jarak manusia dengan agama.
Oleh sebab itu kini banyak orang yang mulai memalingkan kembali perhatian mereka kepada agama dan spiritualitas. Mengenai masalah keimanan yang sejati pada masa ghaibah Rasulullah saw mengatakan, "Wahai Ali, masyarakat yang paling beriman dan beragama adalah mereka yang hidup di akhir zaman. Mereka tidak melihat nabi sedangkan imam mereka ghaibah. Meski demikian, mereka tetap konsisten terhadap iman mereka dengan bersandarkan pada ilmu pengetahuan dan maarif serta buku-buku yang mereka miliki".
Namun, mengingat pembedaan antara kebenaran dan kebatilan pada masa ghaibah sangatlah sulit, maka tugas untuk menjelaskan hal tersebut dipikul oleh para alim ulama yang bertakwa. Mereka adalah para penjaga perbatasan hakikat Islam yang dapat memberikan jawaban terhadap seluruh kebutuhan umat manusia sesuai pada masanya dengan menggunakan argumentasi ilmiah. Pada masa ghaibah, para ulama tersebut adalah mencegah penyimpangan masyarakat dan berupaya menegakkan pemerintahan shaleh di muka bumi. Mengenai peran para ulama agama dalam masyarakat Imam Mahdi as mengatakan, "Para ulama akan menjaga hati masyarakat yang goncang, mereka seperti nakhoda yang menjaga kendali kapal".
Pada masa awal ghaibah, Ishaq bin Ya'qub, mengirimkan surat kepada Imam Mahdi as melaui seorang wakil beliau. Dalam suratnya, ia bertanya kepada Imam Mahdi bahwa kepada siapa saja masyarakat harus merujuk? Beliau menjawab: "Dalam berbagai peristiwa yang kalian alami, kalain harus merujuk pada perawi hadis. Karena mereka adalah hujjah kami untuk kalian dan aku adalah hujjah Allah untuk kalian".
Para cendikiawan Muslim berpendapat, benar bahwa Imam Mahdi as akan menegakkan keadilan dan membasmi kebatilan pada masa kemunculannya, namun hal ini tidak berarti bahwa masyarakat tidak berbuat apa-apa atau tidak peduli terhadap peristiwa yang terjadi di dunia, hingga masa munculnya Imam Mahdi as. Justru salah satu tanda-tanda pemerintahan shaleh Imam Mahdi as adalah keberadaan orang-orang shaleh yang berjuang menegakkan keadilan. Pada masa ghaibah, masyarakat berkewajiban untuk memperkokoh pilar-pilar agama, nilai-nilai kemanusiaan, dan keimanan. Dengan demikian kemunculan Imam Mahdi as akan semakin dekat dengan semakin banyaknya orang-orang mukmin yang peduli terhadap umat.(IRIB)

Imam Mahdi as 3

Semerbak Harum Mahdi as 3
Imam Mahdi as
Betapa indahnya jika pada satu hari dunia terbersihkan dari seluruh permainan konyol dan fitnah, serta ditegakkan pemerintahan yang adil. Betapa indahnya ketika pada hari itu ayat-ayat Allah swt mengalir dari mulut Imam Mahdi as. Betapa indahnya ketika semerbak aroma harum kehidupan tersebut menyegarkan dunia. Tidak diragukan lagi bahwa hari itu akan tiba. Akan tetapi sudahkah kita mempersiapkan diri? Pada tahun 260 Hijriah, Imam Hasan Askari as, pasca masa kepemimpinannya selama enam tahun, gugur syahid di usia 28 tahun. Ketika itu, putra beliau Imam Mahdi as menjadi imam dan pemimpin umat. Sejak saat itulah tahap baru kehidupan Imam Mahdi as dimulai. Sangat cepat sekali sejumlah faktor yang menyebabkan kelahiran Imam Mahdi as tersembunyi dari pantauan musuh, juga membuat imam ke-12 ini tidak dapat lagi disaksikan oleh masyarakat. Namun bagaimana pun juga hubungan dan komunikasi masyarakat dengan Imam Mahdi as tetap berlanjut.
Pada satu masa, beliau berkomunikasi dengan masyarakat melalui empat wakil yang ditunjuk langsung oleh beliau. Masyarakat menyampaikan pertanyaan mereka kepada para wakil tersebut dan juga mendapatkan jawaban. Tahap inilah yang disebut dengan Ghaibah Sughro yang berlangsung selama 69 tahun. Pasca era tersebut, atas perintah Allah swt, Imam Mahdi as ghaib secara menyeluruh dari pandangan umat manusia hingga ketika beliau akan menyinari dunia bagaikan matahari.
Masalah ghaibah bukan hal yang aneh dalam sejarah. Dalam riwayat mengenai auliya Allah berulangkali ditekankan mengenai ghaibah Imam Mahdi as dan banyak masyarakat yang mengetahui hal ini. Secara keseluruhan, masalah ghaibah dalam hadis Ahlul Bait Nabi as dinilai sebagai sunnah Allah swt dan telah menjadi fenomena yang biasa di kalangan para nabi dan auliya.
Berdasarkan riwayat, Nabi Shaleh, nabi kaum Tsamud pada usia tuanya juga mengalami ghaibah yang berlangsung selama beberapa waktu kemudian tiba-tiba ia muncul kembali. Bahkan kaumnya sempat tidak mengenalinya. Begitu pula dengan ghaibah Nabi Musa as. Bani Israil sangat kebingungan menghadapi ghaibah Nabi Musa as hingga akhirnya beliau kembali muncul di tengah-tengah kaumnya. Ghaibah seperti ini juga terjadi pada Nabi Ilyas, Daniel, Yunus, Yusuf, dan sejumlah nabi lain. Hal penting yang harus ditekankan dalam hal ini adalah bahwa sunnah ilahi juga berlaku untuk Imam Mahdi as.
Berdasarkan riwayat, dalam masalah ghaibah Rasulullah saw juga menyinggung ghaibah Imam Mahdi as. Rasulullah dalam sebuah riwayatnya menyatakan, "Mahdi adalah putraku. Namanya adalah namaku dan julukannya adalah julukanku. Ia adalah orang yang paling mirip denganku dari sisi lahiriah. Pada masa ghaibah dan kebingungan saat itu, banyak masyarakat yang tersesat. Kemudian ia akan muncul seperti komet dan memenuhi bumi dengan keadilan sama seperti ketika kezaliman memenuhi dunia".
Mungkin sejumlah orang akan berpendapat bahwa seandainya Imam Mahdi as tidak ghaibah maka umat manusia tidak akan menghadapi krisis seperti saat ini. Dalam hal ini, para ahli agama dan ulama berpendapat bahwa Rasulullah saw pada masa risalahya telah menyampaikan seluruh pokok dan hukum-hukum politik, sosial, ekonomi, dan budaya Islam kepada umat manusia. Ajaran agama Islam sedemikian jelas dan komprehensif sehingga mampu membimbing manusia menggapai kebahagiaan. Agama Islam juga menyimpan bimbingan bagi umat manusia untuk sebuah pemerintahan pada masa risalahnya sebagai teladan pemerintahan yang saleh dan adil.
Namun di sisi lain, sejarah menjadi saksi bahwa umat manusia hingga kini belum siap menerima keberadaan satu pemerintahan global dan masih terjerat tipu daya para penguasa zalim. Allah swt menjaga Imam Mahdi as dari gangguan musuh dan berkehendak bahwa Imam Mahdi as akan muncul ketika umat manusia telah benar-benar siap untuk menerima pembentukan pemerintahan tunggal di dunia.
Perlu diperhatikan pula bahwa Imam Mahdi as meski hingga kini ghaibah, namun kaum muslim juga meyakini hal ini bahwa berkah wujudnya dan perhatian manusia suci ini tetap dapat dirasakan. Mereka meyakini pula bahwa pada masa ghaibah Imam Mahdi as tetap berperan dalam membimbing umat manusia. Seperti yang diucapkan Imam Mahdi as kepada seorang wakilnya:"Cara untuk mengambil manfaat dariku sama seperti matahai, ketika awan tebal menutupnya". Yakni ketika matahari berada di balik awan, semua orang tetap dapat merasakan manfaat matahari.(IRIB)

Imam Mahdi as 2

 2
Imam Mahdi as
Ia akan datang. Ia akan muncul dari balik awan kegelapan masa, ia bersinar bagaikan matahari menerangi kelamnya kehidupan manusia. Ia muncul untuk mengungkap rahasia kehidupan dan memberikan makna yang dalam pada sejarah. Ia adalah Mahdi as yang dijanjikan Allah swt, sang penyelamat umat manusia dan pewaris kepemimpinan ilahi di muka bumi. Pada masa kemunculannya, seluruh unsur kejahilan akan sirna dan seluruh dunia akan bergerak menuju keadilan, persahabatan, dan persamaan. Pada saat itu, orang-orang yang saleh akan berkuasa di muka bumi.

Para penguasa zalim Bani Abbas mendengar berita dan riwayat tentang kelahiran seorang dari Ahlul Bait as yang akan mengakhiri seluruh kezaliman dan ketidakadilan di dunia. Hadis dari Rasulullah saw yang diturunkan dari generasi ke generasi menyebutkan, "Aku memberitahukan kalian tentang Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan pada masa pertikaian antara umat manusia dan ketika dunia dipenuhi kezaliman dan kejahatan. Para penghuni langit dan bumi ridha terhadapnya."
Berita kelahiran sang penyelamat umat manusia ini telah merampas ketenangan dan ketenteraman para penguasa despotik dan zalim. Mereka menyadari bahwa sang penyelamat tersebut adalah putra Imam Hasan Askari as. Ia akan menghancurkan benteng-benteng kesesatan dan kefasadan serta menggulingkan pemerintahan para penguasa zalim. Para pemimpin Bani Abbas sangat mengkhawatirkan masa depan kekuasaan mereka.
Demi memadamkan cahaya terang Ahlul Bait as ini, mereka mengirim para mata-mata ke kediaman Imam Hasan Askali as untuk mengawasi seluruh gerak-gerik beliau beserta keluarga. Mereka hendak membunuh Imam Mahdi as. Dengan demikian, mereka beranggapan dapat mencegah terealisasinya janji Allah swt yaitu munculnya sang penyelamat umat manusia. Namun Allah swt menunjukkan kuasa-Nya dan tanpa pengetahuan musuh, Allah swt telah menebar semerbak harum di muka bumi dengan wujud Imam Mahdi as.
Tahun 255 Hijriah. Hakimah bibi Imam Hasan Askari as yang sedang berada di rumahnya dipanggil oleh Imam. Imam Hasan Askari berkata, "Bibi, malam ini adalah pertengahan bulan Sya'ban. Ketika kamu singgah maka menginaplah di sini. Allah swt pada pertengahan bulan Sya'ban akan melahirkan bayi yang menjadi hujjah-Nya di muka bumi."
Hakimah menjawab:"Sapa ibu bayi itu?"
Imam berkata: "Istriku, Narges."
Dengan sangat terkejut Hakimah berkata: "Jiwaku untuk mu. Namun aku tidak menyaksikan tanda-tanda kehamilan dari wanita mulia ini".
Imam tersenyum dan berkata: "Untuk itulah aku berharap agar kau menginap. Ia seperti ibu Nabi Musa yang tidak seorangpun tahu bahwa ia hamil".
Hakimah malam itu datang ke rumah Imam Hasan Askari as. Narges, sosok wanita agung dan bersahaja itu dengan wajah ceria berkata kepada Hakimah: "Selamat datang bibi".
Hakimah berkata: "Junjunganku dan keluarga kami. Malam ini Allah akan menganugerahkan seorang putra yang menjadi pemimpin di dua dunia".
Mendengar ucapan Hakimah itu Narges menundukkan kepala dan duduk perlahan-lahan.

Dalam lanjutan cerita ini, Hakimah menjelaskan:
"Malam itu, setelah menunaikan shalat, aku berbuka puasa dan tidur. Pertengahan malam aku bangun untuk menunaikan shalat malam. Aku melihat Narges yang sedang shalat namun tidak tampak sedikit pun tanda-tanda kehamilannya. Setelah shalat aku kembali tidur. Namun tak lama setelah itu aku terjaga dengan jantung berdebar. Saat itu Narges juga terjaga, namun tetap saja tidak ada tanda-tanda. Hampir saja aku meragukan ucapan Imam Hasan Askari as. Namun seketika Imam memanggilku dengan suara lantang dan berkata: "Bibi, jangan heran, waktunya telah dekat". Di saat aku tengah membaca AlQuran, tiba-tiba Narges berdiri dengan wajah pucat. Jantungku berdebar keras. Aku menyebut nama Allah dan mendekati Narges. Tak lama kemudian, lahir bayi yang berbeda dengan bayi lainnya, ia sangat suci. Ia bersinar bagaikan bulan. Setelah lahir, bayi yang dinantikan itu bersujud dan bersyukur kepada Allah swt serta mengucapkan syahadah atas keesaan-Nya. Aku menggendong bayi itu. Ketika itulah Imam Hasan Askari as berkata; "Bibi tercinta, bawa putraku padaku", dan aku pun membawa putra itu ke hadapan Imam.

Ketika menyaksikan kegagalan makar musuh dan keadian akan ditegakkan oleh putranya yang tercinta, Imam Hasan Askari as bergembira dan berkata: "Syukur kepada Allah swt yang tidak menarikku dari dunia ini sebelum aku menyaksikan pewarisku, ia adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw dari sisi perilaku dan wajah. Allah swt akan menjaganya pada masa ghaibah, kemudian ia akan memunculkannya untuk menebar keadilan di dunia yang dipenuhi kezaliman dan kefasadan".

Kemunculan Imam Mahdi as 1


Imam Mahdi as
Malam telah berakhir, matahari keadilan dan kebebasan muncul di ufuk hati manusia. Seorang manusia agung bangkit dan dengan tangan penuh kasih sayangnya, menanamkan persahabatan dalam hati umat manusia. Ia memiliki wajah penuh pesona, cerah, dan bersahaja. Di hadapan Allah swt dan kebesaranNya, ia adalah manifestasi keindahan dan keagungan Allah swt. Imam Mahdi as adalah sosok yang adil, suci, berperilaku baik, dan berwibawa. Ia tidak akan membiarkan terjadi ketidakadilan meski hanya setitik pun, dan dengan lentera hidayahnya, ia akan menerangi seluruh dunia hingga iman dan keadilan yang sesungguhnya dapat terwujud.
Kini berabad-abad telah berlalu sejak manusia menjejakkan kaki pada peradaban dan budaya moderen. Ketika memasuki tahap atau fase baru dalam perjalanan peradabannya, manusia mengira dapat menyelesaikan seluruh masalahnya. Namun setelah beberapa waktu, manusia harus berhadap-hadapan dengan masalah baru. Kemudian setelah tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut, manusia akan menyadari bahwa ia membutuhkan sang penyelamat untuk mengentaskan manusia dari masalah hakikinya yaitu kesesatan dan kefasadan.
Salah satu fakta nyata di dunia dewasa ini adalah perluasan kezaliman, pelanggaran, dan arogansi. Saat ini kita hidup di dunia yang dipenuhi manusia-manusia yang pada umumnya hidup untuk diri mereka sendiri. Hubungan mereka dengan orang lain berkaitan erat dengan tuntutan materi serta persahabatan mereka berasaskan untung dan rugi. Umat manusia dewasa ini setelah mendapatkan sesuatu, mereka mengejar mimpi baru dan selalu merasa tidak tenang.
Kita tengah hidup di masa ketika keamanan, perdamaian, dan ketenteraman sejati, menjadi sesuatu yang hilang dari dimensi kehidupan. Tren konsumerisme semakin meningkat setiap hari, sementara alam dan lingkungan hidup menuju kepada kehancuran. Keadilan dan dukungan terhadap hak asasi manusi, merupakan kata-kata indah yang mengalir dari mulut orang-orang yang mengklam diri sebagai perwakilan umat manusia. Namun pada saat yang sama, dengan penuh kesombongan mereka melakukan kejahatan di berbagai belahan dunia setiap hari.
Pada masa krisis yang seakan tidak pernah berakhir ini, hanya petunjuk dari Allah swt yang dapat menerangi hati manusia dan menyelamatkan mereka. Seperti yang difirmankan oleh Allah swt, suatu hari kelak akan muncul tatanan baru yang memberikan warna baru di dunia. Pada hari itu, Imam Mahdi as dengan aroma harum kemunculannya akan bersinar di hati manusia dan memberikan energi baru dalam kehidupan. Ia akan menebarkan rasa kasih sayang dan cinta ke seluruh penjuru dunia serta mengembalikan asas hubungan sosial yaitu berdasarkan kasih sayang dan persahabatan.
Imam Mahdi as adalah putra Imam Hasan Askari as. Ibu beliau bernama Narjes Khatun yang merupakan putri raja Romawi dan dibawa ke Baghdad melalui peristiwa yang sangat menakjubkan. Kemudian ia pergi ke Samarra dan menikah dengan Imam Hasan Askari as. Imam Mahdi as adalah hujjah atau imam terakhir Allah swt untuk umat manusia yang saat ini tengah menjalani masa kegaiban. Pada akhirnya, Imam Mahdi as akan muncul dengan kehendak Allah swt serta memenuhi dunia dengan keadilan dan keamanan.
Dalam ajaran agama telah disebutkan banyak hadis tentang kemunculan Imam Mahdi as, tanda-tanda kemunculannya, dan tentang kebangkitan melawan kezaliman. Dalam hadis, Imam Mahdi as diumpamakan sebagai cahaya Allah, pedang tajam, pewaris ilmu, sang penyadar, dan perusak istana-istana kezaliman. Imam Mahdi as mewarisi karakter seluruh auliya Allah. Oleh karena itu, Imam Mahdi memiliki seluruh sifat para nabi termasuk adil, sabar, pengasih, pemberani, dermawan, dan tawadhu'.
Banyak para penyair yang menyamakan Imam Mahdi as dengan Nabi Yusuf. Dalam menyifatinya mereka menekankan poin ini bahwa Imam Mahdi sama dengan Nabi Yusuf yang ghaib dari pandangan masyarakat umum. Ia tidak dikenal di tengah masyarakat untuk menempuh jalan yang benar. Dengan kata lain, Imam Mahdi as bagaikan matahari yang tersembunyi di balik awan tebal namun umat manusia tetap dapat merasakan manfaat eksistensinya, meski mereka tidak dapat menyaksikannya. (IRIB)


web site counter